Bendungan Lhok Adan Jebol, 800 Hektare Sawah Terancam Tak Terairi

Plt Kalak BPBD Pidie, Apriadi Ahmad, SSos (tengah) bersama kepala Distanpang, Hasballah, SP, MM (kiri) meninjau lokasi irigasi Lhok Adan, Kecamatan Sakti yang ambruk diterjang arus sungai Krueng Tiro, 29 September 2026. (Foto Dokumentasi BPBD Pidie/Kolase: Portalnusa.com)

PORTALNUSA.com | PIDIE – Musim tanam rendengan 2026-2027 di Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, dibayangi persoalan serius. Bendungan Lhok Adan jebol setelah diterjang derasnya arus Krueng Tiro, mengancam pasokan air untuk sekitar 800 hektare lahan pertanian warga.

Bendungan tersebut jebol sejak Sabtu, 26 September 2026, setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Pidie dalam beberapa pekan terakhir.

Kerusakan itu membuat pemerintah daerah bergerak cepat. Penanganan darurat dilakukan dengan mengerahkan tiga unit alat berat berupa excavator dan satu loader untuk mengendalikan aliran sungai sekaligus mengupayakan agar air tetap bisa dialirkan menuju areal persawahan.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Pidie, Apriadi Ahmad, mengatakan kawat bronjong juga dipasang untuk membantu mengalihkan arus air ke jalur irigasi.

“Penanganan yang bersifat darurat untuk sementara waktu, kami mengerahkan tiga alat berat berupa excavator atau beko dan satu loader. Kami juga memasang kawat bronjong untuk mengalihkan aliran air agar dapat disuplai ke jalur persawahan warga,” kata Apriadi kepada Portalnusa.com, Rabu, 30 September 2026.

Menurut Apriadi, langkah tersebut menjadi upaya sementara untuk menjaga sekitar 800 hektare lahan produktif tetap mendapatkan air menjelang musim tanam.

BPBD bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan serta Dinas Pekerjaan Umum Pidie telah meninjau langsung kondisi bendungan. Dari hasil peninjauan, bangunan irigasi Lhok Adan dinilai sudah berusia lama sehingga membutuhkan rehabilitasi.

Jika persoalan ini tidak segera ditangani, pasokan air untuk ribuan petani di 13 gampong di Kecamatan Sakti berpotensi terganggu pada musim tanam rendengan.

“Bangunan ini sudah cukup lama sehingga perlu dilakukan rehabilitasi agar suplai air kepada ribuan petani di 13 gampong dalam Kecamatan Sakti dapat terpenuhi pada musim tanam rendengan akhir tahun ini,” ujar Apriadi.

Namun, pemerintah daerah masih mengandalkan penanganan darurat untuk mengejar waktu sebelum musim tanam berlangsung.

Apriadi menargetkan pekerjaan darurat tersebut rampung dalam tiga pekan.

“Kami targetkan dalam tiga pekan ke depan penanganan secara darurat ini dapat tuntas sehingga 800 hektare lahan pertanian warga dapat teraliri air,” katanya.

Bagi petani di Kecamatan Sakti, pemulihan aliran air menjadi penting karena musim tanam sudah di depan mata. Sementara itu, rehabilitasi Bendungan Lhok Adan dibutuhkan untuk memastikan persoalan yang sama tidak kembali mengancam lahan pertanian warga. []