Dokter THT dari Berbagai Daerah Ikuti Simposium dan Workshop Rinologi di Aceh
PORTALNUSA.com | BANDA ACEH – Dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti simposium dan workshop rinologi di Aceh. Kegiatan berlangsung di hotel Hermes palace Banda Aceh tersebut, menjadi wadah untuk peningkatan kompetensi klinis sekaligus keterampilan tindakan operasi, khususnya dalam penanganan penyakit hidung dan sinus.
Sementara itu, Ketua panitia, Dr. dr. T. Husni TR, Sp.THTBKL, Subsp. Rhino (K), menyambut baik kehadiran para peserta yang datang dari sejumlah wilayah, meliputi Sumatra, Jawa, hingga Kalimantan.
Ia berharap kegiatan inj dapat memberikan manfaat nyata bagi para peserta, terutama dalam meningkatkan keterampilan operasi rinologi dan penanganan ekstraksi benda asing pada saluran hidung.
Menurut Husni, pertemuan ilmiah seperti ini menjadi kesempatan penting bagi para dokter agar bisa memperluas wawasan sekaligus pengembangan kemampuan praktik melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman.
Harapan serupa disampaikan Dr. dr. Novina Rahmawati, Sp.THTBKL, Subsp. Oto. Onk (K). Ia menilai kegiatan tersebut tidak hanya penting untuk meningkatkan kompetensi keilmuan, namun juga memperkuat kekompakan dan hubungan profesional antarsejawat.
Lewat simposium dan workshop ini, para peserta diharapkan dapat saling berbagi informasi dan perkembangan ilmu di bidang rinologi, sekaligus memperoleh tambahan keterampilan dalam melakukan tindakan operasi.
Di sisi lain, perwakilan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh, Dr. dr. Muntadhar, Sp.B, Subsp. Ped (K), berharap dengan adanya pertemuan tersebut dapat memberikan pengalaman ilmiah yang bermanfaat, khususnya dalam bidang rinologi, serta mempererat silaturahmi di antara para dokter. Ujar Muntadhar.
Ia kembali mengingatkan bahwa rinologi merupakan bidang kedokteran yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Gangguan pada hidung dan sinus tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan saat bernapas, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas tidur, produktivitas, hingga kualitas hidup pasien.
Di balik keluhan yang terkadang dianggap sederhana, penanganan gangguan hidung dan sinus membutuhkan ketelitian klinis, ketepatan diagnosis, serta pemilihan tata laksana yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
Karena itu, simposium dan workshop memiliki peran saling melengkapi. Simposium menjadi ruang untuk memperbarui pengetahuan dan mendiskusikan perkembangan bukti ilmiah, sedangkan workshop memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengasah keterampilan praktis melalui bimbingan instruktur.
Melalui kegiatan ini, ilmu dan pengalaman yang diperoleh sekiranya tidak berhenti pada forum ilmiah, tetapi dapat diterapkan dalam pelayanan kesehatan sehingga memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat banyak. []













