Hari Prolog Epilog

 

HARI-hari itu. Di penanggalan tiga puluh september dan satu oktober. Lima puluh delapan tahun lalu. Tepatnya tahun seribu sembilan ratus enam puluh lima

Saya sudah kelas tiga sekolah menengah pertama. Hari itu, seingat saya, tidak ada peristiwa apa-apa. Biasa-biasa saja. Seperti di hari saya menulis. Malam ini. Tenang…

Gak ada kegawatan. Seperti gawatnya akronim g -30s- pki. Jadi hafalan. Sensitif dan disensitifkan.  Hingga hari ini.

Hari ketika diskusi dan perdebatan tentang topik pernyataan maaf terhadap anak-anak pe-ka-i. Tentang orang-orang onderbow partai itu disuruh pulang.

Diminta jadi warga negara Indonesia kembali.Menanggalkan status “quo”-nya sebagai “suaka”.  Saya tak tahu bagaimana kelanjutannya. Terserah yang baik saja.

Tapi kegawatan di lima dasawarsa lalu itu usai hari penanggalan tiga puluh September “chaos.”  Satu Oktobernya … blass…

Terjadi ketegangan. Bahkan di rumah saya. Karena, dari radio transistor merek cawang yang antenenya bersilang sengkarut tali temali terdengar siaran. “Coup de’tat.” Kudeta.

Isi siarannya  tak benar-benar saya pahami. Setengah  paham. Maksudnya. Tetapi ayah saya sangat tertarik untuk mendengarkannya.

Ayah saya dan beberapa tetangga membesarkan suara radio dan untuk bisa “nguping”, mendengarkan bunyi setiap pernyataan. Agar suaranya lebih jelas.

Ada pengumuman dari Letkol Untung.

“Gawat”, kata ayah  saya. Tapi tidak dijelaskan lebih lanjut.

“Ada pemberontakan,” katanya.  Pidato Letkol Untung itu diulang terus menerus. Mulai ada diskusi setengah kamar. Ada yang  bisik-bisik. Tapi banyak yang berisik. Bicara tentang ketakutan.

Radio transistor itu tetap mengulang pidato Untung.

Sorenya menjelang malam ada pidato lain. Saya seisi rumah nguping lagi mendengarkan siaran radio republik.

Saya sebenarnya tidak tahu apa-apa. Tetapi setelah itu nama Letkol Sarwo Edhie Wibowo menjadi sangat terkenal.

Hari itu, cita-cita saya yang hendak jadi sarjana hukum berubah. “Pingin jadi er-pe-ka-ade, kayak Sarwo Edhie Wibowo..”

Belakangan baru tahu. Ternyata yang menyerbu gedung radio itu adalah tentara erpekad. Pimpinan Sintong Pandjaitan. Yang masuk gedung tanpa perlawanan.

Ada tiga peluru ditembakkan pasukan Sintong. Tentara regular dari cakrabirawa enyah.

Sebelum tanggal itu setiap siaran sore saya selalu disuguhkan dengan reportase kehebatan barisan massa pe-ka-i. Ada gerwani yang dalam derap beritanya selalu diiringi gendering.

Saya suka mendengarnya. Biasanya ada yang meneriakkan yel: hidup pe-ka-i  Lalu bersahutan dengan suara koor: hidup! Hidup be-te-i! Hidup gerwani! Hidup!

Setelah itu suara dari radio sember saya menguap.

Awalnya saya ikutan teriak: Tapi ayah saya seorang tokoh partai nahdiyin mengingatkan : “ssst, jangan sahut!” Nggak boleh.

Saya yang baru empat belas tahun mbok ngerti. Sudah tahu kenapa tidak boleh. Yakin larangan itu  tujuannya baik.

Maka hari selanjutnya saya tak pernah lagi menirukan yel itu. Padahal tiap hari saya membaca koran, tapi saya tak paham apa yang saya baca.

Hari-hari setelah tiga puluh september, tiap malam saya terus mendengarkan warta berita di radio.

Setelah ada reportase lengkap dari pembaca berita tentang pembunuhan para jenderal barulah saya paham betul tentang aksi itu. Aksi yang mulai dikerucutkan sebagai kejahatan.

Walaupun terjadi pergantian hari dan bulan  di kota saya, negeri “ketelatan” tidak ada kegawatan.

Lama setelahnya baru ada format tentang negeri ini yang kacau balau. Gawat.

Dimulailah perekrutan hanra. Pertahanan rakyat. Ditetapkan per kampung. Sekian orang. Dilatih baris berbaris, bela diri, dan juga pegang senjata.

Setelah latihan sekian hari, ada simulasi macam-macam. Ada jadwal ronda kampung. Ramai sekali turunannya.

Tak ada ketegangan apa-apa. Tapi kegawatan berkecamuk dalam kecambah perbincangan. Sebagai murid sekolah menengah pertama saya menanggapinya biasa saja. Gak ada ketegangan.

Saya senang. Karena di sekolah dibentuk kesatuan aksi. Untuk tingkat sekolah menengah atas dan menengah pertama bisa bergabung ke kesatuan aksi pelajar. Kappi.

Saya jadi anggota. Punya kartu. Bisa ikut demonstrasi.  Bangga. Di tingkat yang atasnya dibentuk pula kesatuan aksi mahasiswa. Ada nama hebat yang tersisa hingga hari ini.

Sebut saja Anwar Nono Makarim. Juga Goenawan Mohamad. Mereka menjadi idola. Cerdas. Yang kemudian jadi penulis hebat. Juga lawyer top.

Di tataran partai politik dibentuk kesatuan bernama front nasional. Ayah saya yang tokoh partai menjadi bagiannya. Menjadi wakil ketua di sana. Ketuanya langsung bupati.

Pimpinan front nasional bisa menjadi pantja tunggal. Pantja tunggal yang berubah menjadi musyawarah pimpinan daerah. Muspida. Hari ini bermutasi lagi menjadi forum komunikasi pimpinan daerah.

Kesatuan dan front ini terus beraksi. Terjadi pergeseran kekuasaan. Lahir surat perintah sebelas maret. Supersemar.

Di era supersemar ini sepanjang tahun dan pergantian tahunnya ada banyak aksi. Organisasi massa  non pe-ka-i dan koalisinya bergerak  Saya masih ingat detilnya hingga hari ini.

Di sekolah saya kegiatan belajar mengajar mulai molor. Kami diajarkan dengan kosakata baru prolog dan epilog.

Yang masa itu saya gak tahu apa maknanya. Kemudiannya saya baru tahu prolog itu harfiahnya  pengantar cerita. Dialog percakapan antar tokoh dalam cerita.

Dan saya baru tahu  epilog adalah penutup cerita. Perbedaan prolog dan epilog ada pada letaknya. Prolog letaknya di awal cerita, sementara epilog ada di akhir sebagai penutup cerita.

Namun, saat itu kata prolog dan epilog menjadi tren. Menempatkan pengucapnya sebagai intelek.

Selain muncul kosakata baru semraut kegiatan juga terjadi  Tokoh politik dari provinsi berdatangan. Tujuannya macam-macam. Dari penggalangan massa hingga rapat akbar.

Hanya itu yang saya tahu. Atau saya ingat. Yang kemudiannya datang istilah baru: kodon.

Mengerikan kalau ia dikenang di hari epilog. Hari ini. Tapi tidak di masa prolog itu. Hari-hari lima puluhan tahun lalu itu.

Muncul kosakata baru di negeri saya. Namanya: “kodon”. Orang-orang berbau komunis di-”ambil” lantas hilang. Tak tahu di mana jiratnya.

Ayah teman saya yang di depan dan di belakng rumah di-”jemput.” Malam-malam. Bahkan ada seorang tetangga saya yang perempuan meraung-raung ketika di-“jemput.”

Kata penjemput ia “terlibat.” Saya tak tahu kemana ia dibawa. Keluarganya sudah maklum. Ia sudah berjirat. Tapi tak ada tahlil mengantar kepergiannya.

Anehnya seisi kampung tak bisa menghalangi. Apalagi menghadang. Semuanya pasrah. Menerima sebagai takdir. Tak ada pengadilan. Gak ada wawancara. Semuanya berjalan “smooth.”

Hingga kini saya tak pernah tahu ukuran yang dipakai dalam kata “terlibat.” Gak tahu ukuran dan kadarnya. Juga gak pernah diberitahu apa arti kata “terlibat” itu sesungguhnya.

Saya tak ingin menulis nama-nama mereka. Saya tak ingin membongkar rasa pedih yang dialami anak-anak mereka yang melata sepanjang hidup sebagai anak eks…..

Anak-anak eks yang menjadi teman bermain. Yang dienyahkan tak bisa menjadi ambtenar. Yang kini dikirimkan kata-kata maaf…[]

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”