Heboh “Awan Busa” di Pidie, Muncul Singkat Lalu Menghilang – Diduga Terkait Gas Bertekanan Tinggi

Sisa busa dari gumpalan awan di Gampong Blang, Kecamatan Manee, Pidie, Senin, 4 Mei 2026. (Foto kiriman warga untuk Portalnusa.com)

PORTALNUSA.com | PIDIE – Fenomena tak lazim berupa gumpalan putih menyerupai “awan busa” yang muncul di areal persawahan warga di Gampong Blang, Kecamatan Mane, Kabupaten Pidie, Senin, 4 Mei 2026 menghebohkan masyarakat.

Kejadian ini viral di media sosial setelah direkam warga dari berbagai sudut lokasi.

Namun, fenomena tersebut ternyata hanya berlangsung singkat.

Dalam hitungan jam, gumpalan busa yang sempat menyelimuti beberapa titik sawah itu menghilang, menyisakan permukaan tanah yang basah layaknya embun.

Camat Mane, Muktar AG, yang di hubungi portalnusa.com mengatakan kemunculan “awan busa” itu diperkirakan hanya bertahan sekitar dua hingga tiga jam.

“Setelah itu langsung mencair dan hilang, hanya meninggalkan basahan di lokasi,” ujarnya kepada PortalNusa.com, Senin malam.

Ia menjelaskan, hembusan angin dari kawasan perbukitan turut mempercepat proses hilangnya fenomena tersebut tanpa meninggalkan jejak berarti.

Peristiwa ini menjadi perhatian luas karena baru pertama kali terjadi dan disaksikan langsung oleh masyarakat setempat.

“Seumur hidup, baru kali ini warga melihat kejadian seperti ini,” tambahnya.

Berdasarkan penelusuran awal, gumpalan yang tampak seperti awan tersebut diduga bukan fenomena awan alami.

Sejumlah indikasi mengarah pada terbentuknya busa akibat pelepasan gas bertekanan tinggi yang bereaksi dengan kondisi udara tertentu, seperti suhu dingin atau kelembapan tinggi.

Fenomena semacam ini juga bisa dipicu oleh kondensasi uap air ekstrem atau reaksi kimia dari aktivitas tertentu, termasuk kemungkinan terkait aktivitas tambang di sekitar wilayah tersebut. Gas yang terlepas ke udara dingin dapat membentuk busa tebal yang sekilas menyerupai awan turun ke permukaan tanah.

Meski demikian, hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait penyebab pasti fenomena tersebut.

Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan kajian ilmiah guna memastikan tidak ada dampak berbahaya bagi lingkungan maupun masyarakat.[]