RSU Cut Meutia Makin Kinclong, Nasib Pekerja Kontrak Justru Dipertanyakan

RSU Cut Meutia Kota Langsa (Foto: T.Syafrizal/ Kolase Portalnusa.com)

PORTALNUSA.com | LANGSA – Di balik keberhasilan RSU Cut Meutia Langsa sebagai salah satu fasilitas kesehatan andalan masyarakat, terselip persoalan yang menyangkut kesejahteraan pekerja kontrak.

Sejumlah pekerja dengan status Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) mengaku hanya menerima upah bersih sekitar Rp860 ribu per bulan setelah dipotong iuran BPJS. Mereka menilai penghasilan tersebut tidak sebanding dengan beban dan tanggung jawab pekerjaan yang dijalankan.

Jika informasi itu benar, muncul pertanyaan sederhana: ketika pelayanan rumah sakit terus ditingkatkan, apakah kesejahteraan para pekerjanya juga ikut diperhatikan?

Selain persoalan upah, Portalnusa.com juga memperoleh informasi dari sumber internal mengenai dugaan persoalan pengadaan obat dan alat kesehatan serta pengelolaan limbah medis di lingkungan PT CMMN, pengelola RSU Cut Meutia.

Sumber internal juga menyebut pejabat berinisial W diduga memiliki pengaruh dalam sejumlah kegiatan pengadaan, termasuk kegiatan yang disebut seharusnya melalui proses tender namun dilaksanakan secara swakelola. Informasi tersebut masih berupa dugaan dan belum terverifikasi secara independen.

PortalNusa.com telah meminta klarifikasi kepada Direktur PT CMMN Ir Ernawati, namun hingga berita ini diterbitkan belum memberikan tanggapan.

Baca:Upah Rp1 Juta, Tenaga Kontrak RSU Cut Meutia Pertanyakan Dasarnya

Direktur SDM dan Umum PTPN IV PalmCo Dr. H. Suhendri, Jumat, 21 Agustus 2026, mengatakan PT CMMN merupakan aset dan berada di bawah kewenangan PTPN I.

“PT CMMN tersebut merupakan aset PTPN I, demikian juga karyawannya. Tapi terima kasih telah di-update ke saya,” ujar Suhendri.

PortalNusa.com juga telah menghubungi Direktur SDM dan Teknologi Informasi PTPN I Siwi Peni untuk meminta tanggapan. Namun hingga berita ini disusun, pesan yang dikirim belum memperoleh jawaban.

Persoalan itu kini menunggu penjelasan manajemen. Sebab, rumah sakit boleh disebut sukses melayani pasien, tetapi kesejahteraan orang-orang yang berada di balik layanan itu juga tidak boleh menjadi cerita yang disembunyikan. []