Hotnida Boang Manalu Kembali Bersyahadat di Subulussalam
PORTALNUSA.com | SUBULUSSALAM – Hotnida Boang Manalu, 39 tahun, kembali memeluk Islam setelah mengucapkan dua kalimat syahadat dalam sebuah prosesi di Kota Subulussalam, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Prosesi pensyahadatan tersebut dibimbing dai Forum Dakwah Perbatasan (FDP), Ustadz Alam Syah, dan disaksikan Koordinator Wilayah Singkil–Subulussalam, Mukhlis Pohan, perwakilan keluarga mualaf serta masyarakat.
Baca:FDP Intensifkan Pembinaan Mualaf di Aceh Singkil
Hotnida yang sehari-hari bekerja sebagai penjahit tersebut, sebelumnya pernah meninggalkan Islam. Dalam keterangannya, ia menyatakan telah menyadari dan menyesali keputusan yang pernah diambil serta kini memilih kembali menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim.
Di hadapan para saksi, Hotnida mengikrarkan dua kalimat syahadat dan menyatakan keyakinannya bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.
Perjalanan hidup Hotnida disebut cukup panjang dan penuh dinamika. Ia disebut berasal dari keluarga Muslim dan sejak kecil memiliki latar belakang keluarga yang mengenal Islam. Namun, dalam perjalanan kehidupannya, ia sempat meninggalkan agama Islam.
Sejumlah pengalaman pribadi yang dilaluinya kemudian menjadi bagian dari perjalanan yang membawanya kembali untuk mendalami dan meneguhkan keyakinan Islam. Dalam prosesi tersebut, Hotnida tampak menyampaikan ikrar dengan penuh kesungguhan.
Ia juga menyatakan keinginannya untuk tetap teguh dalam Islam dan berjanji tidak kembali meninggalkan keyakinannya.
Bagi Hotnida, keputusan tersebut bukan sekadar prosesi pengucapan syahadat, tetapi menjadi awal dari perjalanan baru untuk memperdalam ajaran Islam dan menjalani kehidupan dengan keyakinan penuh yang dipilihnya.
Pendamping prosesi berharap Hotnida tidak hanya mendapatkan dukungan secara moral, tetapi juga memperoleh pembinaan keagamaan secara berkelanjutan. Dukungan keluarga, para dai, dan masyarakat dinilai penting agar ia dapat menjalani kehidupan barunya dengan tenang.
Prosesi berlangsung sederhana dan penuh kekhidmatan. Sejumlah masyarakat yang hadir turut memberikan dukungan kepada Hotnida setelah ia menyelesaikan pengucapan dua kalimat syahadat.
Bagi para pendamping, setiap perjalanan seseorang dalam menemukan dan meneguhkan keyakinan merupakan proses pribadi. Karena itu, Hotnida diharapkan dapat terus belajar, memperkuat pemahaman agama, serta menjalani kehidupan barunya dengan penuh keteguhan. []










