“Tugas Anda sebagai Wartawan Itu Bertanya”: Kenangan Saya Bersama Atok Sjamsul Kahar
Oleh: Ayi Jufridar
Eks : Wartawan/Karyawan Harian Serambi Indonesia
PORTALNUSA.com | BANDA ACEH – Jumat, 18 September 2026, saya teringat kepada Atok—begitu panggilan keluarga besar Serambi Indonesia dan para mantan karyawan kepada H. Sjamsul Kahar, salah seorang pendiri Serambi Indonesia.
Saya mencoba menanyakan kabarnya. Saya mendapat informasi bahwa beliau sedang sakit dan berharap kondisinya baik-baik saja. Namun, pesan WhatsApp yang saya kirim tidak kunjung masuk.
Sebelumnya, pada hari-hari tertentu, saya memang kerap mengirim pesan kepada beliau. Balasannya hampir selalu datang, meski terkadang terlambat.
Karena itu, saya terkejut ketika pada 24 September 2026 mendapat kabar dari grup alumni Serambi Indonesia bahwa Atok telah berpulang di RSUD dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Saya berduka. Keluarga besar Serambi berduka. Aceh kehilangan salah seorang tokoh pers yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia jurnalistik di daerah ini.
Kabar itu seketika menyeret ingatan saya jauh ke belakang, ke tahun 1997.
Pertanyaan yang Mengubah Cara Saya Menjadi Wartawan
Saat itu saya mengikuti seleksi menjadi wartawan Serambi Indonesia. Ketika pertama kali melamar, saya bahkan tidak dipanggil.
Alasannya sederhana: saya tidak memenuhi persyaratan pendidikan minimal S1.
Waktu itu saya baru setahun menyelesaikan pendidikan D-3 di Politeknik Negeri Universitas Syiah Kuala—yang kini menjadi Politeknik Negeri Lhokseumawe.
Sekretaris Redaksi Serambi Indonesia, Bang Ridwan Ishaq, kala itu menyampaikan bahwa pendidikan saya belum memenuhi syarat. Padahal, saya sudah cukup lama menulis. Cerpen, puisi, dan artikel saya telah dimuat di berbagai media cetak, termasuk Serambi Indonesia.
Entah bagaimana ceritanya, akhirnya saya mendapat kesempatan mengikuti seleksi.
Ada tiga orang yang dipanggil ketika itu: saya dan dua calon jurnalis perempuan.
Setelah melalui seleksi bersama Ridwan Ishaq, saya mendapat kesempatan mengikuti wawancara dengan Atok.
Pertanyaan awalnya biasa saja. Tentang pendidikan, aktivitas saya di kampus, keluarga, wawasan mengenai jurnalistik, hingga pengetahuan umum.
Kemudian datang pertanyaan yang paling saya ingat sampai hari ini.
Atok meminta saya menulis sebuah berita.
Beliau bercerita tentang sebuah kecelakaan fiktif yang terjadi di jalan menuju Takengon, Aceh Tengah.
Saya mencatat setiap detail yang disampaikan.
Kebiasaan mencatat memang sudah terbentuk sejak kecil. Saya tidak ingin ada satu pun fakta penting yang terlewat. Bahkan, cara Atok berbicara dan warna suaranya masih terasa jelas dalam ingatan saya.
Setelah selesai, saya merasa puas. Saya yakin telah mengerjakan tugas itu dengan baik.
Saat kuliah, saya memang sudah terlibat dalam dunia penulisan. Saya menjadi pembantu khusus majalah Anita Cemerlang untuk wilayah Aceh. Saya kerap menulis profil sekolah unggulan atau siswa berprestasi. Tulisan-tulisan itu bahkan lebih panjang daripada berita langsung.
Namun, ada satu hal yang saya lewatkan.
Unsur when—kapan peristiwa itu terjadi—tidak ada dalam berita yang saya tulis.
Atok memang tidak menyebutkan waktu kejadian dalam cerita kecelakaan tersebut.
Ketika ditanya mengapa unsur waktu tidak saya tuliskan, saya menjawab jujur:
Atok tidak menyebutkannya.
Jawaban itu justru menjadi pelajaran pertama yang sangat membekas bagi saya.
“Tugas Anda sebagai wartawan itu bertanya!”
Kalimat itu masih saya ingat sampai sekarang.
Saya tidak pernah tahu apakah Atok memang sengaja tidak menyebutkan waktu kejadian untuk menguji ketelitian saya, atau memang lupa menyampaikannya.
Namun, apa pun alasannya, saya belajar sesuatu yang sangat penting hari itu: wartawan tidak boleh sekadar mencatat apa yang dikatakan narasumber. Wartawan harus kritis dan memastikan setiap fakta penting.
Telepon di Tengah Luka Aceh
Banyak ilmu yang saya dapatkan dari Atok, meskipun setelah itu saya ditugaskan di Biro Lhokseumawe sehingga tidak terlalu sering bertemu dengannya.
Salah satu kenangan yang paling kuat terjadi pada 3 Mei 1999, ketika penembakan terjadi di Simpang KKA.
Hari itu saya bersama Bang Muharram M. Noor berusaha menuju lokasi. Namun, kami tidak berhasil sampai ke Simpang KKA. Saya hanya sampai Krueng Geukueh.
Dari sana saya kemudian menuju Rumah Sakit PT Arun di Batuphat karena banyak korban dibawa ke tempat tersebut.
Apa yang saya lihat di rumah sakit masih sulit saya lupakan.
Para korban dijejer di sebuah ruangan.
Saya syok.
Emosi saya pecah ketika melihat seorang anak dibawa ke ruangan itu dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Darah memenuhi lantai. Pakaian para korban berubah warna menjadi merah.
Saya down.
Saya menangis.
Pemandangan di balik kaca ruangan itu benar-benar mengguncang jiwa saya.
Malam harinya, telepon kantor berdering.
Atok menelepon.
Saat itu saya belum memiliki handphone. Komunikasi masih mengandalkan telepon kantor.
Saya mengeluh kepada Atok sambil menahan tangis. Saya menceritakan kondisi yang saya lihat dan betapa beratnya perasaan saya.
Atok membesarkan hati saya.
“Kita semua juga tertekan. Kita terjepit untuk menyuarakan kebenaran. Tapi kita harus tetap meliput.”
Kemudian beliau mengingatkan saya agar selalu berhati-hati dalam menjalankan tugas.
Itu adalah telepon pertama yang saya terima dari Atok.
Dan sampai sekarang, saya tidak pernah melupakannya.
Nasihat sederhana itu membuat beban yang saya rasakan sedikit berkurang.
Kami kembali ke lapangan.
Meliput kembali.
Menjadi saksi lembar-lembar kelam konflik Aceh—sebuah masa yang tentu tidak ingin kita ulangi lagi sampai kapan pun.
Guru yang Tak Pernah Berhenti Mengajar
Bagi saya, Atok bukan sekadar seorang senior di Serambi Indonesia.
Ia adalah orang tua sekaligus guru jurnalistik.
Dalam berbagai kesempatan pelatihan jurnalistik, saya selalu menyebut nama beliau sebagai salah seorang guru yang secara langsung memberikan ilmu kepada saya.
Selain Atok, ada Pak Basri Daham, abang kandung Atok, Ridwan Ishaq, Muharram M. Noor, Hamdani S. Rukiah, Bang Yarmen Dinamika, dan banyak lagi orang yang ikut membentuk perjalanan saya di dunia jurnalistik.
Mereka bukan hanya mengajari bagaimana menulis berita.
Mereka mengajari bagaimana mencari kebenaran, memeriksa fakta, bertanya, berhati-hati, dan tetap menjalankan tugas meski berada dalam situasi yang sulit.
Atok mengajarkan satu hal itu kepada saya sejak wawancara pertama kami pada 1997.
Tugas wartawan adalah bertanya.
Kalimat sederhana itu ternyata menjadi pelajaran panjang dalam perjalanan saya.
Kini, Atok telah pergi.
Saya mungkin tidak lagi dapat mengirim pesan WhatsApp dan menunggu balasan beliau. Tidak ada lagi kesempatan untuk sekadar menanyakan kabar atau berbincang tentang dunia pers.
Tetapi ilmu dan nasihatnya tetap tinggal.
Selamat jalan, Atok.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan menerima seluruh amal ibadahmu serta menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya.
Semoga ilmu yang Atok berikan kepada kami menjadi amal jariyah dan pahala yang tidak pernah terputus.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Amin. []











