Sumpah Pemuda di Secangkir Kopi: Antara Ikrar Kejayaan dan Sumpah Serapah Anak Muda Aceh

(Foto: Kolase by.Portalnusa.com)

Oleh: Imran, S.E., M.S.M./Ketua AICRF /Pengiat Sosial

Di hari Peringatan Sumpah Pemuda, warung kopi di Banda Aceh tetap ramai. Di antara aroma kopi Gayo dan kopi saring Ulee Kareng, anak-anak muda berbincang tentang banyak hal, termasuk satu persoalan yang sulit dihindari: masa depan.

Setelah lulus, ke mana harus melangkah? Bagaimana membangun kehidupan mandiri ketika pekerjaan layak sulit diperoleh?

Hampir satu abad lalu, para pemuda Indonesia menyatukan tekad untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan. Kini, generasi muda hidup di negara merdeka dengan akses teknologi dan informasi yang luas. Namun, kemerdekaan belum otomatis menghadirkan kepastian masa depan.

Di sinilah ironi Sumpah Pemuda terasa. Ikrar persatuan terus diperingati, tetapi persoalan pekerjaan, penghasilan, dan kesempatan berkembang masih menunggu jawaban nyata.

Bonus Demografi: Peluang atau Beban?

Aceh memiliki modal generasi muda yang besar. Berdasarkan SUPAS 2025 yang dirilis BPS Provinsi Aceh pada 5 Mei 2026, jumlah penduduk Aceh mencapai sekitar 5,63 juta jiwa. Generasi Z mencakup 27,01 persen penduduk, generasi milenial 24,30 persen, sedangkan penduduk usia produktif mencapai 67,68 persen.

Angka ini merupakan peluang besar, tetapi bonus demografi tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan. Tanpa pendidikan bermutu, keterampilan yang relevan, lapangan kerja, dan akses permodalan, potensi tersebut berisiko tidak berkembang.

Persoalannya bukan semata-mata apakah anak muda mau bekerja keras, melainkan apakah tersedia ruang bagi mereka untuk membuktikan kemampuan.

BPS Provinsi Aceh mencatat angka kemiskinan pada Maret 2026 sebesar 12,34 persen, naik dari 12,22 persen pada September 2025. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka pada Mei 2026 mencapai 5,89 persen atau sekitar 157,48 ribu orang.

Di balik angka itu, ada lulusan yang belum memperoleh pekerjaan, keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan, serta anak muda yang terpaksa menunda cita-cita.

Karena itu, pengangguran tidak bisa semata-mata dituding sebagai akibat kurangnya usaha pribadi. Kualitas pendidikan, struktur ekonomi, akses modal, dan kebijakan pembangunan turut menentukan kesempatan seseorang untuk maju.

Ijazah seharusnya menjadi pintu menuju kesempatan, bukan sekadar dokumen yang tersimpan ketika pekerjaan tak kunjung datang.

Ekonomi Aceh Harus Membuka Lebih Banyak Peluang

Aceh membutuhkan ekonomi yang lebih produktif dan beragam. Pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, industri pengolahan, perdagangan, dan ekonomi kreatif dapat menjadi sumber pertumbuhan sekaligus penciptaan lapangan kerja.

Kopi Gayo, misalnya, tidak cukup hanya dijual sebagai komoditas. Pengolahan, pengemasan, penguatan merek, dan pemasaran digital dapat meningkatkan nilai tambah serta membuka ruang bagi anak muda untuk terlibat.

Teknologi juga menghadirkan peluang kerja jarak jauh di bidang desain, penerjemahan, pengembangan perangkat lunak, dan pemasaran digital. Namun, peluang tersebut membutuhkan keterampilan nyata, bukan sekadar sertifikat pelatihan.

Di sisi lain, pembangunan Aceh harus memperhitungkan risiko banjir dan tanah longsor yang dapat merusak lahan, mengganggu distribusi, dan melumpuhkan usaha masyarakat.

Penguatan ekonomi karena itu perlu berjalan bersama pembangunan infrastruktur yang tangguh, perlindungan mata pencaharian, dan kesiapsiagaan bencana.

Kemandirian ekonomi tidak cukup dibangun melalui semangat berusaha. Ia membutuhkan lingkungan yang memungkinkan usaha tumbuh dan pekerjaan tersedia secara berkelanjutan.

Warung Kopi: Ruang Gagasan atau Tempat Mengeluh?

Warung kopi telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Aceh. Di sana, informasi bertukar, gagasan tumbuh, dan persoalan publik diperbincangkan.

Namun, bagi sebagian anak muda yang belum memperoleh pekerjaan, warung kopi juga menjadi tempat menghabiskan waktu di tengah terbatasnya pilihan. Percakapan tentang masa depan terkadang berakhir sebagai keluhan tentang pekerjaan dan ketidakpastian hidup.

Istilah sumpah serapah dalam tulisan ini bukan tuduhan bahwa anak muda Aceh gemar mengeluh. Ia menggambarkan kekecewaan ketika harapan tidak menemukan jalan keluar.

Keluhan tidak selalu berarti kemalasan. Terkadang, justru di sanalah persoalan yang perlu didengar mulai terlihat.

Yang patut diwaspadai adalah ketika kekecewaan berubah menjadi ketidakpedulian dan anak muda kehilangan kepercayaan terhadap masa depan.

Warung kopi semestinya tidak hanya menjadi tempat bertukar keluhan, tetapi juga ruang membangun jejaring, berbagi informasi pekerjaan, merancang usaha, dan mengembangkan gagasan.

Persoalannya bukan pada secangkir kopi, melainkan apakah setelah kopi habis, harapan ikut menguap atau justru menemukan arah baru.

Pemerintah Harus Membuka Jalan

Anak muda memang harus terus belajar, meningkatkan keterampilan, dan berani mengambil peluang. Namun, tanggung jawab membangun masa depan tidak boleh dibebankan kepada mereka seorang diri.

Pemerintah daerah perlu memastikan program kepemudaan tidak berhenti pada seminar motivasi, pelatihan sesaat, atau pembagian bantuan. Harus ada pendampingan, akses pasar, hubungan dengan dunia kerja, dan hasil yang dapat diukur.

Perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan pemerintah juga perlu memperkuat kolaborasi agar pendidikan lebih sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.

Kewirausahaan penting, tetapi bukan satu-satunya jawaban atas pengangguran. Aceh tetap membutuhkan investasi produktif, lapangan kerja formal yang layak, pendidikan berkualitas, dan perlindungan bagi pekerja.

Anak muda bukan sekadar penerima program pembangunan. Mereka harus diberi ruang untuk menyampaikan gagasan, mengambil keputusan, dan ikut menentukan arah masa depan daerahnya.

Sumpah Pemuda Harus Menjadi Kerja Nyata

Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap 28 Oktober. Semangatnya harus hadir dalam upaya memperluas kesempatan kerja, meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat ekonomi, dan membangun ketahanan masyarakat.

Anak muda perlu mengubah kegelisahan menjadi energi untuk belajar, berkolaborasi, dan berbuat. Namun, pemerintah dan dunia usaha harus membuka jalan agar semangat itu tidak berhenti sebagai slogan.

Warung kopi akan selalu menjadi ruang percakapan masyarakat Aceh. Di sana, kritik boleh tumbuh dan keluhan boleh terdengar. Tetapi, percakapan harus menemukan jalan menuju tindakan.

Sebab, kejayaan tidak lahir hanya dari ikrar yang diucapkan, sebagaimana masa depan tidak berubah hanya karena keluhan yang berulang.

Jangan sampai Sumpah Pemuda hanya menjadi ikrar tahunan, sementara sumpah serapah menjadi percakapan sehari-hari karena kesempatan tak kunjung terbuka. []