NEWS

Hujan Deras, Pidie Jaya Kembali Digenangi Banjir, Warga Cemas Bencana Berulang

Kondisi genangan air di pemukiman warga, kawasan Kecamatan Meurah Dua dan Meureudu, Kamis, 29 Oktober 2026. (Foto Dokumentasi warga Meurah Dua untuk Portalnusa.com/Kolase: PORTALNUSA.com)

PORTALNUSA.com | PIDIE JAYA – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Pidie Jaya (Pijay), Aceh, dalam beberapa hari terakhir kembali menyebabkan sejumlah gampong tergenang banjir. Selain luapan sungai, kondisi drainase yang belum sepenuhnya pulih pascabencana hidrometeorologi pada November 2025 turut memperparah genangan di permukiman warga.

Ketinggian air di sejumlah kawasan permukiman dilaporkan mencapai 50 sentimeter hingga hampir satu meter. Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat akan kemungkinan terulangnya bencana, terutama karena normalisasi saluran pembuangan air yang terdampak banjir sebelumnya belum sepenuhnya tuntas.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya, Okta Handipa, ST, M.Arch, mengatakan hujan deras pada 25–26 Oktober 2026 menyebabkan luapan Sungai Krueng Ulim yang menggenangi lima gampong di Kecamatan Bandar Dua.

“Sedikitnya lima gampong terdampak genangan akibat luapan Sungai Krueng Ulim,” kata Okta kepada PortalNusa.com, Kamis, 29 Oktober 2026.

Kelima gampong tersebut adalah Alue Keutapang, Babah Krueng, Pohroh, Alue Mee, dan Blang Kuta. Meski air di kawasan tersebut telah surut, hujan susulan kembali memicu genangan di sejumlah wilayah lainnya.

Hujan deras kembali mengguyur Pidie Jaya pada Selasa, 27 Oktober 2026, dan berlanjut hingga Rabu, 28 Oktober 2026. Dampaknya, sejumlah permukiman di Kecamatan Meurah Dua dan Meureudu turut digenangi air.

Di Kecamatan Meurah Dua, genangan setinggi 50 sentimeter hingga satu meter dilaporkan terjadi di Gampong Pante Beureune, Mancang, Dayah Usen, Dayah Kruet, Raya, dan Meunasah Jurong Teupin Pukat. Genangan juga melanda Gampong Blang Cut, Geunteng, Teungoh, serta sebagian wilayah Gampong Bie.

Sementara itu, di Kecamatan Meureudu, genangan air dilaporkan terjadi di Gampong Beurawang, Manyang Cut, Manyang Lancok, Meunasah Lhok, Masjid Tuha, dan Meunasah Balek.

Drainase Belum Pulih, Warga Khawatir Banjir Berulang

Abdullah (65), warga Kecamatan Meurah Dua, mengatakan genangan yang berulang di permukiman warga tak hanya dipengaruhi curah hujan dan luapan sungai, namun juga kondisi saluran pembuangan air yang belum berfungsi optimal.

“Belum tuntasnya normalisasi saluran drainase itu, menyebabkan air hujan menggenangi permukiman masyarakat,” ungkapnya kepada Portalnusa.com, Kamis, 29 Oktober 2026.

Menurut Abdullah, hujan yang terus mengguyur Pidie Jaya dalam sepekan terakhir membuat warga kembali diliputi kekhawatiran terulangnya bencana hidrometeorologi seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

Ia mengingatkan potensi luapan dua sungai utama, yakni Krueng Meureudu dan Krueng Ulim, yang dikhawatirkan membawa material sedimen dalam jumlah besar. Di sisi lain, saluran pembuangan air yang masih tertimbun lumpur sisa banjir bandang dinilai dapat menghambat aliran air ketika hujan deras turun.

Kondisi tersebut, menurutnya, perlu segera ditangani agar genangan tidak terus berulang dan menambah beban masyarakat yang masih berupaya memulihkan kondisi pascabencana.

“Kami berharap pemerintah segera melakukan antisipasi dan pemulihan agar masyarakat bisa merasa lebih aman dan nyaman setelah mengalami bencana hidrometeorologi,” ungkapnya.

Banjir dan genangan yang kembali terjadi menjadi pengingat pentingnya percepatan pemulihan infrastruktur pascabencana di Pidie Jaya. Normalisasi sungai dan drainase, terutama di kawasan rawan banjir, diharapkan dapat mengurangi risiko genangan serta melindungi permukiman warga saat hujan deras kembali melanda. []