Daniel Abdul Wahab: Pemberitaan Tempo tentang NasDem telah Melampaui Batas

Daniel Abdul Wahab

PORTALNUSA.com | BANDA ACEH – Gelombang protes terhadap Majalah Tempo kian menguat di Aceh. Kader Partai NasDem secara terbuka mengecam keras pemberitaan yang dinilai menyudutkan partai dan Ketua Umumnya, Surya Paloh.

Berita terkait: Setelah Dihujani Protes NasDem, Tempo Minta Maaf

Aksi protes tidak sekadar respons emosional, tetapi telah berkembang menjadi narasi politik yang lebih luas: soal etika jurnalistik, kebebasan pers, hingga batas antara kritik dan penghinaan.

Salah satu pernyataan keras disuarakan Daniel Abdul Wahab, Sekretaris Partai NasDem Kota Banda Aceh.

Berita terkait: Pengurus dan Kader NasDem di Parlemen Datangi PWI Aceh, Serahkan Petisi Terkait Pemberitaan Tempo

Daniel yang juga Wakil Ketua DPRK Banda Aceh menilai pemberitaan Tempo telah melampaui batas kewajaran dalam praktik jurnalistik.

“Kami selaku kader Partai NasDem di Aceh mengecam keras pihak redaksi Majalah Tempo dan Bocor Alus. Gambar karikatur di cover Tempo sangat tidak beretika dan melecehkan Ketua Umum kami, Bapak Surya Paloh. Ini tidak bisa diterima dengan akal sehat. Apakah penghinaan terhadap tokoh bangsa layak disebut produk jurnalistik?” tegas Wakil Ketua DPRK Banda Aceh itu.

Kontroversi Karikatur: Satir atau Pelecehan?

Pusat polemik bermula dari ilustrasi karikatur di sampul majalah yang dianggap melecehkan figur Surya Paloh.

Dalam tradisi jurnalistik global, karikatur politik memang lazim digunakan sebagai medium kritik sosial. Namun, di Indonesia—terutama dalam konteks budaya timur dan sensitivitas politik—batas antara satir dan penghinaan kerap menjadi kabur.

“Bagi kader NasDem di Aceh, garis batas itu telah dilampaui,” tulis Daniel dalam pernyataannya.

Daniel menilai visual tersebut bukan lagi kritik, melainkan bentuk pelecehan simbolik terhadap tokoh publik yang memiliki kontribusi besar dalam demokrasi Indonesia. Perspektif ini memperlihatkan bagaimana simbol visual dapat memicu reaksi lebih keras dibandingkan teks berita itu sendiri.

Isi Pemberitaan Dipersoalkan: Fakta atau “Gosip Murahan”?

Tak hanya soal visual, NasDem juga menyanyangkan substansi laporan Tempo.

Daniel menyebut sebagian isi pemberitaan tidak berbasis fakta kuat.

“Isi laporan Tempo patut diduga hanya berdasarkan gosip murahan, karangan imajiner, atau cerita fiktif. Ini jelas mendegradasi kaidah jurnalistik. Sungguh disayangkan media sebesar Tempo bisa berperilaku seperti media abal-abal,” demikian Daniel Abdul Wahab.[]

Berikan Pendapat