Polemik LCC MPR RI 2026, Publik Kembali Belajar Sportivitas dari Film “Laskar Pelangi”

Cuplikan Laskar Pelangi kembali viral usai polemik LCC MPR RI 2026 ramai disorot publik. Netizen menyebut adegan itu sebagai contoh sederhana tentang sportivitas dan keberanian mengoreksi keputusan. ( Foto : tangkapan layar cuplikn Film "Laskar Pelangi " yang rilis Tshun 2008 )

PORTALNUSA.com | BANDA ACEH – Jagat media sosial kembali diramaikan polemik pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat MPR RI 2026. Pada Sabtu, 9 Mei 2026, Alih-alih menjadi ajang adu wawasan kebangsaan, kompetisi tersebut justru menuai kritik publik setelah muncul berbagai sorotan terkait mekanisme penilaian hingga respons panitia terhadap kritik peserta.

Banyak warganet menyayangkan situasi ini karena dinilai memperlihatkan sikap anti kritik serta lemahnya mekanisme koreksi dalam sebuah kompetisi akademik nasional.

Padahal, dalam perlombaan intelektual, kemampuan menerima kesalahan seharusnya menjadi bagian penting dari pendidikan demokrasi.

Di tengah polemik itu, publik justru kembali mengingat sebuah adegan ikonik dari film Laskar Pelangi.

Dalam cuplikan tersebut, juri lomba cerdas cermat yang awalnya meragukan jawaban Lintang akhirnya memilih mengakui kekeliruan dan memperbaiki hasil penilaian secara terbuka.

Adegan sederhana itu kini dianggap netizen sebagai “pelajaran mahal” tentang sportivitas, kerendahan hati, dan keberanian mengoreksi keputusan. Ironisnya, nilai tersebut justru hadir dari sebuah film lama, bukan dari panggung kompetisi resmi yang membawa nama lembaga negara.

“Kadang fiksi memang terasa lebih realistis dibanding kenyataan,” tulis salah satu pengguna media sosial yang ikut mengomentari polemik tersebut.

Perbandingan itu pun memicu diskusi luas. Banyak pihak menilai, menerima kritik bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan institusi.

Sebab dalam perlombaan pengetahuan, yang paling penting bukan sekadar siapa yang menang, tetapi apakah kejujuran dan keadilan ikut dijaga.

Sementara itu, cuplikan Laskar Pelangi kembali viral dan dibanjiri komentar publik. Sebagian bahkan berseloroh bahwa “pendidikan karakter ternyata lebih hidup di layar kaca dibanding di ruang lomba. []