Dua Hari Ditempa di Ruang Sunyi: Ketika Enam Wartawan Diuji Menjadi “Utama”
Laporan Abdul Hadi/Portalnusa.com
JUMAT, 28 Agustus 2026, mungkin akan menjadi salah satu hari yang sulit kami lupakan. Bukan karena hari itu istimewa dalam kalender, tetapi karena sejak pukul 08.30 WIB, enam wartawan harus mempertaruhkan pengetahuan, pengalaman, dan harga diri jurnalistik mereka dalam sebuah ruang yang hening di Hotel Diana, Banda Aceh.
Kami berenam—Abdul Hadi, Didik Ardiansyah, Syawal, Masluddin, Jalal, dan Arman—duduk dalam satu ruangan sebagai peserta Uji Kompetensi Wartawan (UKW) jenjang Utama.
Tidak ada suasana santai. Tidak ada tawa yang lepas. Yang terdengar hanya suara kertas, ketukan jari, dan sesekali instruksi dari penguji.
Di hadapan kami berdiri sosok yang sejak awal sudah membuat suasana terasa berbeda: Refa Riana.
Namanya bukan asing bagi dunia kewartawanan. Pada UKW kali ini, Refa menjadi penguji untuk jenjang Utama, sementara rekan-rekan wartawan lainnya mengikuti ujian jenjang Muda dan Madya.
Bagi kami, pertemuan pertama dengan Refa terasa seperti sebuah hentakan.
Ketegasan itu bahkan muncul sebelum mata uji pertama dimulai.
Saat pengisian daftar hadir, terjadi sebuah kesalahan kecil. Absen diserahkan kepada Masluddin dengan arahan agar setelah menandatangani segera diteruskan kepada peserta di sebelahnya. Namun, karena situasi dan posisi duduk, absen tersebut justru disodorkan kepada rekan yang berada di depan.
Refa langsung menarik daftar hadir itu.
Diremas.
Kemudian dilemparkan ke hadapan kami.
“Kalian pemberontak, ya?”
Kalimat itu membuat kami berenam sontak terdiam.
Tak ada yang berani menoleh. Suasana yang sejak awal sudah tegang seketika menjadi semakin sunyi.
Di dalam hati mungkin ada yang bertanya, Seberat inikah UKW jenjang Utama?
Jawabannya segera kami temukan.
Waktu yang Tak Pernah Menunggu
Mata uji pertama dimulai.
Soal diberikan. Waktu ditentukan. Tidak ada kompromi.
Kami dituntut berpikir cepat, cermat, sekaligus menunjukkan bahwa pengalaman bertahun-tahun menjadi wartawan bukan sekadar rutinitas mencari berita dan menulis naskah.
Setiap tugas harus diselesaikan sesuai ketentuan.
Menit demi menit berlalu.
Kami mulai memahami bahwa UKW bukan sekadar ujian untuk mendapatkan selembar sertifikat. Di ruangan itu, kami seperti sedang membuka kembali seluruh perjalanan menjadi wartawan.
Apa yang selama ini kami lakukan di lapangan diuji.
Cara menggali informasi diuji. Cara memahami persoalan diuji. Cara menulis berita diuji. Ketelitian, etika, tanggung jawab, hingga kemampuan mengambil keputusan sebagai seorang wartawan turut dipertaruhkan.
Hari pertama terasa panjang.
Namun, ternyata itu baru permulaan.
Hari kedua datang dengan beban yang tidak lebih ringan. Tubuh mulai lelah, pikiran terkuras, tetapi ujian terus berjalan.
Kami terus “dihajar”.
Tidak ada ruang untuk lengah.
Setiap kesalahan dikoreksi. Setiap kekurangan ditunjukkan. Setiap pekerjaan harus dipertanggungjawabkan.
Di situlah kami mulai menyadari bahwa sebenarnya bukan sekadar kemampuan teknis jurnalistik yang sedang diuji.
Yang sedang ditempa adalah mental.
Galak, Tetapi Tidak Menghakimi
Refa Riana mungkin akan kami kenang sebagai penguji yang galak.
Tetapi setelah dua hari menjalani ujian, kami mulai melihat sisi lain dari ketegasan itu.
Di balik suara yang keras, instruksi yang tegas, dan koreksi tanpa kompromi, ada niat untuk membentuk.
Refa tidak sedang mencari-cari kesalahan kami untuk menjatuhkan.
Ia sedang menunjukkan bahwa seorang wartawan tidak boleh bekerja dengan setengah hati.
Kesalahan kecil di ruang ujian mungkin terlihat sederhana. Namun dalam pekerjaan wartawan, kesalahan kecil bisa berakibat besar. Satu data yang keliru, satu informasi yang tidak diverifikasi, atau satu keputusan yang tidak berdasarkan etika dapat memengaruhi kehidupan orang lain dan kepercayaan publik terhadap pers.
Karena itu, kami mulai memahami mengapa kami ditempa sedemikian keras.
“Di sini tempat Anda mempertaruhkan ilmu wartawan yang selama ini Anda jalankan.”
Pesan itu seolah terus terngiang di kepala kami.
Menjadi wartawan Utama bukan hanya tentang naik jenjang kompetensi. Ada tanggung jawab yang lebih besar di belakangnya.
Wartawan harus mampu menjaga keberlangsungan pers Indonesia sebagai pilar demokrasi sekaligus memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang benar, berimbang, dan bertanggung jawab.
Ujian Berat, Akhir yang Manis
Dua hari akhirnya berlalu.
Ruang hening Hotel Diana yang pada awalnya terasa menakutkan perlahan menjadi ruang yang menyimpan cerita.
Di sana kami pernah ciut.
Di sana kami pernah panik mengejar waktu.
Di sana kami berkali-kali menemukan kekurangan diri sendiri.
Namun, di sana pula kami belajar bahwa pengalaman panjang sebagai wartawan tidak boleh membuat seseorang berhenti belajar.
Ketika akhirnya mengetahui bahwa kami dinyatakan lulus dan kompeten sebagai Wartawan Utama, rasa haru sulit dibendung.
Ada bahagia. Ada lega. Ada pula rasa sedih yang justru muncul setelah semua ketegangan berakhir.
Sebab, di balik hasil manis itu, ada proses panjang yang tidak mudah.
Dan di balik proses tersebut ada seorang penguji yang mungkin selama dua hari kami anggap terlalu keras.
Kini kami justru ingin mengucapkan terima kasih.
Terima kasih, Pak Refa Riana.
Ketegasan Anda telah mengajarkan kami bahwa menjadi wartawan bukan sekadar bisa menulis berita.
Menjadi wartawan berarti berani bertanggung jawab atas setiap kata, data, informasi, dan keputusan wartawan yang kita lahirkan.
Dua hari Anda menempa kami.
Dua hari Anda membuat kami kembali bercermin: apakah kami benar-benar layak menyandang predikat Wartawan Utama?
Kini jawabannya telah kami dapatkan.
Ujian yang berat itu akhirnya menghasilkan sesuatu yang manis.
Dan dua hari di ruang hening Hotel Diana itu akan selalu kami kenang—bukan sebagai dua hari ketika kami “dihajar” tanpa ampun, tetapi sebagai dua hari ketika kami ditempa untuk menjadi wartawan yang lebih bertanggung jawab.[]










