Warga Beuringen Desak Rehabilitasi 30 Hektare Sawah Pascabanjir

Kondisi areal persawahan warga Gampong Beuringen, Kecamatan Meurah Dua, Pijay yang telah dibajak untuk program penanaman jagung dalam sepekan terakhir, Senin, 31 Agustus 2026. (Foto Dokumentasi Keuchik Gampong Beuringen, Muhammad Isa untuk Portalnusa.com/Kolase by.portalnusa.com)

PORTALNUSA.com | PIDIE JAYA – Warga Gampong Beuringen, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya, mendesak Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpang) segera merehabilitasi 30 hektare lahan persawahan yang tertimbun lumpur akibat banjir bandang pada 26 November 2025.

Desakan itu muncul setelah sekitar 15 hektare dari total lahan terdampak dibajak menggunakan traktor untuk persiapan program penanaman jagung. Warga menegaskan pembajakan tersebut tidak boleh dipandang sebagai pengganti program rehabilitasi sawah.

Baca: Pasca Bencana, Pidie Jaya Percepat Rehabilitasi 476 Hektare Lahan Pertanian

Sementara itu, Keuchik Gampong Beuringen, Muhammad Isa, mengatakan warga pada dasarnya tidak mempersoalkan pemanfaatan sementara lahan untuk tanaman jagung. Namun, fungsi utama lahan tersebut harus dikembalikan sebagai areal persawahan.

“Rehabilitasi lahan persawahan berarti membersihkan seluruh material lumpur banjir yang menutupi areal sawah sehingga dapat kembali digunakan untuk bercocok tanam, terutama padi,” kata Muhammad Isa kepada Portalnusa.com, Senin, 31 Agustus 2026.

Menurutnya, kekhawatiran warga semakin besar setelah muncul pemberitaan dan foto maupun video di media sosial yang menyebut adanya rehabilitasi lahan persawahan. Warga khawatir informasi tersebut menimbulkan kesan bahwa seluruh lahan terdampak di Beuringen telah ditangani.

“Jangan sampai ketika pemberitaan rehabilitasi sudah muncul, masyarakat menganggap persoalan ini selesai. Padahal, untuk areal di Gampong Beuringen belum ada rehabilitasi,” ujarnya.

Isa mengatakan warga berharap seluruh 30 hektare sawah dikembalikan ke kondisi semula. Lahan tersebut, kata dia, merupakan sumber mata pencaharian dan penghidupan masyarakat.

“Kami sangat menunggu agar lahan sawah warga direhabilitasi secara utuh karena areal sawah merupakan tempat masyarakat mencari penghasilan sehari-hari,” ujarnya.

Distanpang: Pembajakan Hanya Sementara

Di sisi lain, Kepala Distanpang Pidie Jaya, Muhammad Nur, SP, MSi, membenarkan pembajakan sekitar 15 hektare lahan di Beuringen dilakukan untuk mendukung program penanaman jagung.

Ia menegaskan kegiatan tersebut bersifat sementara dan bukan merupakan bentuk rehabilitasi permanen terhadap lahan sawah terdampak banjir.

“Semua lahan persawahan di Gampong Beuringen seluas 30 hektare akan dimasukkan dalam program rehabilitasi secara utuh,” kata Muhammad Nur.

Menurutnya, rehabilitasi tersebut masuk dalam usulan penanganan 476 hektare lahan terdampak bencana dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp150 miliar yang diajukan kepada pemerintah pusat.

Muhammad Nur meminta masyarakat untuk tidak khawatir mengenai status lahan mereka. Pemerintah daerah, jelasnya, tetap berkomitmen mengembalikan lahan pertanian terdampak bencana ke kondisi produktif untuk kemaslahatan masyarakat.

“Pada intinya, kami berharap usulan dana rehabilitasi dapat terwujud sehingga seluruh areal persawahan yang terdampak bencana bisa segera dipulihkan kembali seperti kondisi semula,” ujarnya.

Dengan demikian, pembajakan untuk tanaman jagung di sebagian lahan bukan akhir dari proses pemulihan. Warga masih menunggu kepastian rehabilitasi 30 hektare sawah yang tertimbun material banjir sejak November 2025 lalu. []