NEWS

H. Sjamsul Kahar, Menjaga Api Pers Aceh hingga Akhir Hayat

H. Sjamsul Kahar bin M. Daham Nuh, salah satu tokoh penting dalam perjalanan pers Aceh dan perintis Harian Serambi Indonesia, meninggal dunia pada Kamis dini hari, 24 September 2026, di RSUD dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh. (Foto: Ist./Kolase:PORTALNUSA.com)

PORTALNUSA.com | BANDA ACEH – Kabar duka menyelimuti dunia pers Aceh. H. Sjamsul Kahar bin M. Daham Nuh, salah satu tokoh penting dalam perjalanan pers Aceh dan perintis Harian Serambi Indonesia, meninggal dunia pada Kamis dini hari, 24 September 2026, di RSUD dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh.

Kepergian Sjamsul Kahar menjadi kehilangan bagi keluarga besar pers Aceh. Sepanjang hidupnya, ia bukan hanya menjalani profesi sebagai wartawan, tetapi turut menjadi bagian dari perjalanan panjang media dan organisasi pers di tengah berbagai perubahan zaman.

Sosok yang akrab disapa SJK itu mengawali karier sebagai wartawan Kompas di Aceh. Namanya kemudian tercatat bersama M. Nourhalidyn sebagai perintis dan pendiri Harian Serambi Indonesia, yang berawal dari Mingguan Mimbar Swadaya.

Pada 9 Februari 1989, Mimbar Swadaya berkembang menjadi Harian Serambi Indonesia. M. Nourhalidyn dipercaya sebagai Pemimpin Umum, sementara Sjamsul Kahar menjadi Pemimpin Redaksi.

Dari ruang redaksi, SJK ikut meletakkan fondasi tradisi jurnalistik Serambi Indonesia. Perjalanan itu berlangsung ketika Aceh berada dalam situasi yang penuh tekanan akibat konflik.

Pada 1999, Committee to Protect Journalists (CPJ) mencatat rumah Sjamsul Kahar diserang bom molotov dan mobilnya dibakar. Saat itu ia menjabat editor utama Serambi Indonesia sekaligus Ketua PWI Aceh.

Tiga Periode Memimpin PWI Aceh

Di organisasi profesi, Sjamsul Kahar dipercaya memimpin PWI Aceh selama tiga periode, yakni 1985–1991, 1991–1995, dan 1995–1998.

Ia memimpin PWI Aceh pada masa ketika wartawan menghadapi tantangan besar dalam menjalankan tugas jurnalistik, terutama di tengah situasi keamanan yang tidak menentu.

Namun, salah satu ujian terbesar dalam perjalanan hidupnya datang pada 26 Desember 2004.

Gempa dan tsunami menghantam Aceh. Kantor dan fasilitas percetakan Serambi Indonesia hancur diterjang gelombang. Sejumlah wartawan dan pekerja media menjadi korban.

Sjamsul Kahar yang ketika itu menjabat Pemimpin Redaksi sempat tidak diketahui keberadaannya. Ia kemudian diketahui selamat dari bencana dahsyat tersebut.

Kehancuran kantor tidak membuat Serambi Indonesia berhenti. Hanya beberapa hari setelah tsunami, tepatnya 1 Januari 2005, koran itu kembali terbit dengan memanfaatkan fasilitas percetakan yang masih tersedia di Lhokseumawe.

Di tengah Aceh yang kehilangan keluarga, rumah dan harta benda, Serambi kembali hadir membawa informasi bagi masyarakat.

Bagi perjalanan pers Aceh, itu menjadi salah satu catatan penting: ketika gelombang tsunami menghancurkan gedung, semangat untuk menghadirkan informasi kepada masyarakat tetap bertahan.

Dari Pemimpin Redaksi hingga Pemimpin Umum

Setelah tsunami, Sjamsul Kahar kemudian dipercaya menjadi Pemimpin Umum Harian Serambi Indonesia, sementara posisi Pemimpin Redaksi dijabat Mawardi Ibrahim.

Perjalanan panjangnya bersama Serambi mencakup hampir seluruh fase penting media tersebut—dari masa perintisan, melewati konflik, hingga membangun kembali kehidupan media setelah tsunami.

Perhatiannya juga tidak berhenti pada jurnalistik. Sjamsul Kahar dikenal memiliki kepedulian terhadap seni dan kebudayaan Aceh.

Di lingkungan PWI Aceh, kiprahnya terus dikenang. Ia juga tercatat sebagai Ketua Penasihat PWI Aceh periode 2021–2026.

Pada 2021, dedikasinya bersama almarhum H. Harun Keuchik Leumiek mendapat penghargaan sebagai Pekerja Pers Sejati Aceh.

Api Pers yang Ditinggalkan

H.Sjamsul Kahar kini telah pergi.

Namun, perjalanan panjangnya meninggalkan jejak dalam sejarah pers Aceh—sebagai wartawan, perintis Serambi Indonesia, Pemimpin Redaksi, Pemimpin Umum dan Ketua PWI Aceh tiga periode.

Ia pernah bekerja ketika pers berada di tengah tekanan konflik. Ia juga menjadi saksi ketika tsunami menghancurkan Aceh dan kantor tempat para wartawan bekerja

Tetapi pers kembali bangkit.

Hari ini, ketika generasi baru wartawan bekerja dengan telepon pintar, kamera digital dan media daring, perjalanan Sjamsul Kahar menjadi bagian dari sejarah yang tidak boleh hilang.

Sebab warisan seorang wartawan bukan hanya jabatan atau tulisan yang pernah dibuat.

Warisan itu adalah nilai, keberanian menjaga profesi dan api pers yang terus diteruskan kepada generasi berikutnya.

Selamat jalan, H. Sjamsul Kahar bin M. Daham Nuh.

Api pers Aceh yang pernah engkau jaga, akan terus menyala. []