Dari Sawah ke Melon dan Mentimun, Petani Pidie Jaya Bidik Peluang Pasar Hortikultura

Ibrahim, seorang petani, menunjukkan tanaman melon dan mentimun yang dibudidayakannya di lahan seluas 1.200 meter persegi di Desa Muko Kutang, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya, sebagai upaya mengembangkan peluang usaha hortikultura, Minggu, 18 Oktober 2026. (Foto: Imran/Kolase: Portalnusa.com)

PORTALNUSA.com | PIDIE JAYA – Lahan seluas 1.200 meter persegi di Desa Muko Kutang, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya, dimanfaatkan Ibrahim untuk membudidayakan melon dan mentimun. Di tengah kebutuhan pasar terhadap sayuran dan buah segar, pilihan itu menjadi upayanya mengembangkan sumber pendapatan dari sektor hortikultura.

Pantauan Portalnusa.com pada 18 Oktober 2026 menunjukkan lahan yang sebelumnya diperuntukkan bagi persawahan tersebut kini digunakan untuk tanaman hortikultura. Ibrahim mengelola kebunnya dengan sistem bedengan dan perawatan intensif untuk mendukung pertumbuhan tanaman serta memudahkan proses panen.

Mentimun dan melon dalam satu siklus usaha, mengembangkan peluang usaha hortikultura. (Foto: Imran/Kolase: Portalnusa.com)

Bagi petani, pemilihan komoditas bukan hanya soal teknik budidaya. Harga jual, biaya produksi, produktivitas lahan, dan kepastian pasar ikut menentukan apakah usaha pertanian dapat memberikan hasil yang memadai.

Mentimun dan melon dalam satu siklus usaha

Ibrahim membudidayakan mentimun dan melon karena keduanya memiliki nilai jual di pasar lokal. Mentimun dipasarkan dengan harga sekitar Rp2.500 per kilogram, sedangkan melon dijual pada kisaran Rp9.000 hingga Rp15.000 per kilogram, bergantung pada kualitas buah dan varietas yang ditanam.

Perbedaan harga tersebut membuka peluang diversifikasi pendapatan. Namun, nilai ekonomi yang diperoleh tetap bergantung pada jumlah hasil panen, kualitas produk, biaya pemeliharaan, serta harga ketika komoditas dijual.

Menurut data produksi yang disampaikan dalam laporan ini, lahan seluas 1.200 meter persegi itu mampu menghasilkan sekitar 300 kilogram dalam sekali petik. Dalam satu siklus tanam, mentimun disebut dapat dipanen hingga 20 kali, meskipun frekuensi aktualnya dapat dipengaruhi kondisi tanaman, cuaca, dan teknik perawatan.

Hasil panen kemudian dipasarkan kepada agen pengumpul dan pedagang besar di wilayah Pidie Jaya. Jalur distribusi tersebut memungkinkan hasil kebun masuk ke pasar tanpa harus seluruhnya dijual langsung kepada konsumen.

Potensi omzet mentimun Rp15 juta

Jika produksi mentimun mencapai 300 kilogram setiap kali panen dan berlangsung sebanyak 20 kali, total hasilnya diperkirakan mencapai 6.000 kilogram atau enam ton dalam satu siklus tanam.

Dengan harga jual Rp2.500 per kilogram, perhitungan tersebut menghasilkan potensi omzet kotor sebesar Rp15 juta.

Angka itu merupakan simulasi berdasarkan asumsi produksi dan harga yang disebutkan, bukan catatan pendapatan bersih yang telah diaudit. Nilai tersebut belum memperhitungkan biaya benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja, pengairan, perawatan, pengangkutan, serta kemungkinan penurunan hasil atau harga jual.

Pendapatan dari melon juga belum dimasukkan dalam perhitungan tersebut. Dengan harga jual yang lebih tinggi, komoditas itu berpotensi menambah penerimaan usaha, tetapi besarnya kontribusi baru dapat dihitung setelah data volume panen dan biaya produksi tersedia.

Bagi petani, perhitungan biaya dan penerimaan menjadi penting untuk mengetahui apakah peningkatan omzet benar-benar diikuti kenaikan keuntungan.

Diversifikasi sebagai pilihan usaha petani

Pemanfaatan lahan untuk melon dan mentimun memperlihatkan salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan petani dalam mengembangkan usaha hortikultura. Diversifikasi komoditas memungkinkan petani menyesuaikan jenis tanaman dengan permintaan pasar dan kondisi lahan.

Namun, pola tersebut tidak otomatis cocok untuk semua persawahan. Ketersediaan air, kondisi tanah, modal awal, risiko serangan hama, serta akses ke pembeli tetap menjadi faktor yang perlu diperhitungkan sebelum petani mengubah pola tanam.

Pengalaman Ibrahim di Desa Muko Kutang dapat menjadi bahan pembelajaran bagi petani lain yang ingin mengembangkan usaha serupa. Langkah berikutnya adalah memastikan pencatatan hasil panen, biaya operasional, dan harga jual dilakukan secara konsisten agar kelayakan usaha dapat dinilai berdasarkan data.

Di tengah kebutuhan memperkuat ekonomi perdesaan, pengembangan hortikultura berpotensi menjadi salah satu alternatif sumber pendapatan petani. Keberlanjutannya akan sangat ditentukan oleh produktivitas lahan, efisiensi biaya, dan kemampuan menjaga akses pasar. []