Ketika Rumah Besar Wartawan Jadi Arena Saling Menjatuhkan
Ketika Ambisi Jabatan Mengalahkan Arti Persaudaraan
Oleh: Jufrizal/ Ketua PWI Aceh Besar
Ada sesuatu yang terasa berbeda ketika kita melihat rumah yang dahulu dibangun dengan semangat kebersamaan, kini justru dipenuhi riuh perselisihan.
Rumah itu bernama PWI.
Dahulu, kita datang dengan tujuan yang sama. Membawa pena, menyatukan gagasan, merawat persaudaraan, serta menjaga kehormatan profesi wartawan. Tidak peduli dari mana kita berasal, siapa senior dan siapa junior, semuanya memiliki tempat di rumah yang sama.
Namun, seiring waktu, suasananya seolah berubah.
Perbedaan yang seharusnya menjadi kekuatan, perlahan menjelma menjadi pertentangan. Persaingan yang semestinya berlangsung sehat, terkadang berubah menjadi saling menyikut. Kawan seperjuangan mulai dipandang sebagai pesaing yang harus dikalahkan.
Ambisi terhadap posisi dan jabatan seakan membuat sebagian orang lupa bahwa mereka sedang berada di rumah sendiri.
Lebih menyedihkan lagi, ketika pena yang selama ini digunakan untuk menyuarakan kebenaran, justru terasa berubah menjadi alat untuk menyerang sesama. Kata-kata menjadi senjata, tudingan bertebaran, dan persaudaraan perlahan terkikis oleh kepentingan.
Lalu, kita patut bertanya: sejak kapan rumah wartawan berubah menjadi arena saling menjatuhkan?
Bukankah PWI dibangun untuk menyatukan wartawan, bukan memisahkan mereka?
Bukankah organisasi ini seharusnya menjadi tempat bertumbuhnya profesionalisme, bukan panggung untuk mempertontonkan siapa yang paling kuat, paling berpengaruh, atau paling berhak menduduki sebuah jabatan?
Tidak ada yang salah dengan kompetisi. Berbeda pilihan adalah hal biasa. Memiliki gagasan dan strategi yang berbeda juga merupakan bagian dari demokrasi organisasi.
Tetapi ada batas yang tidak boleh dilanggar: kehormatan, etika, dan persaudaraan.
Sebab, apa arti sebuah kemenangan jika setelahnya kita kehilangan kawan? Apa gunanya sebuah jabatan jika untuk meraihnya kita harus mengorbankan integritas dan harga diri?
Jabatan memiliki masa. Kekuasaan memiliki batas. Kepengurusan akan berganti, dan waktu akan terus berjalan.
Namun, luka akibat permusuhan bisa jauh lebih lama bertahan daripada masa jabatan itu sendiri.
Kita adalah wartawan. Setiap hari kita mengingatkan masyarakat tentang pentingnya kebenaran, keadilan, etika, dan tanggung jawab. Kita mengkritik mereka yang menyalahgunakan kekuasaan dan mengingatkan mereka yang lupa pada amanah.
Lantas, pantaskah kita justru kehilangan nilai-nilai itu ketika berada di dalam organisasi sendiri?
Jangan sampai kita begitu sibuk mencari kemenangan hingga lupa menjaga kehormatan. Jangan sampai kita begitu berambisi menduduki kursi kepemimpinan, tetapi gagal mempertahankan nilai-nilai yang seharusnya menjadi identitas seorang wartawan.
Mari berkompetisi dengan gagasan, bukan permusuhan. Berbeda pilihan tanpa harus bermusuhan. Berjuang mendapatkan kepercayaan tanpa meruntuhkan kehormatan orang lain.
Karena pada akhirnya, yang harus kita menangkan bukanlah sekadar perebutan jabatan, melainkan kepercayaan dan martabat organisasi.
Menanglah dengan kehormatan, bukan dengan menjatuhkan. Pimpinlah dengan keteladanan, bukan dengan permusuhan.
Sebab PWI bukan milik satu kelompok, bukan pula milik mereka yang sedang berkuasa.
PWI adalah rumah bersama. Rumah tempat wartawan bernaung, bertumbuh, dan menjaga persaudaraan.
Jangan sampai ketika semua perebutan selesai, kita baru menyadari bahwa rumah yang kita perjuangkan ternyata telah kehilangan penghuninya yang saling percaya.
Jangan hancurkan rumah sendiri hanya karena ingin menjadi orang yang paling berkuasa di dalamnya. []













