Gajah Rusak Gabah Siap Panen di Aceh Jaya, Penanganan BKSDA Dinilai Lemah

Petani di Desa Buket Keumuneng, Kecamatan Pasie Raya, Aceh Jaya, memilah gabah padi yang rusak usai diamuk kawanan gajah liar, Kamis dini hari, 21 Mei 2026.(Foto: Kiriman Warga Sarah Raya)

PORTALNUSA.com | ACEH JAYA β€” Gajah liar kembali masuk ke area persawahan warga di Desa Buket Keumuneng, Kecamatan Pasie Raya, Kabupaten Aceh Jaya, Kamis dini hari, 21 Mei 2026. Serangan satwa dilindungi itu menyebabkan gabah padi milik warga yang baru selesai dipanen rusak dan berserakan di areal sawah.
β€Ž
Gabah milik Asmidar yang disimpan sementara di lokasi panen menjadi sasaran amukan kawanan gajah. Sedikitnya enam karung gabah dilaporkan hancur setelah diinjak dan diobrak-abrik satwa liar tersebut.
β€Ž
Penjabat Imum Mukim Sarah Raya, Raja Ansari, mengatakan pihaknya telah menerima laporan dari warga terkait gangguan gajah liar yang kembali terjadi di kawasan pertanian masyarakat. Menurutnya, gabah tersebut belum sempat dipindahkan ke rumah karena baru selesai dipanen.
β€Ž
β€œGabah yang disimpan di sawah semalam dirusak gajah liar. Warga mengalami kerugian karena hasil panen yang selama ini diharapkan justru hancur sebelum sempat dibawa pulang,” ujar Raja Ansari.
β€Ž
Ia menilai konflik antara gajah liar dan warga di wilayah Sarah Raya bukan lagi kejadian baru. Kawanan gajah disebut kerap berkeliaran di sekitar permukiman dan lahan pertanian tanpa penanganan serius dari instansi terkait.
β€Ž
β€œKondisi ini sudah berulang kali terjadi. Namun hingga sekarang belum terlihat langkah konkret untuk menggiring gajah kembali ke habitatnya. Warga seperti dibiarkan menghadapi ancaman sendiri,” katanya.
β€Ž
Raja Ansari juga menyoroti lemahnya respons Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dalam menangani konflik satwa liar dan manusia yang terus berulang di Aceh Jaya. Menurutnya, kehadiran pemerintah dan instansi konservasi tidak cukup hanya menerima laporan tanpa solusi nyata di lapangan.
β€Ž
Ia meminta BKSDA bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya segera mengambil langkah terpadu, mulai dari patroli rutin, pengawasan kawasan rawan konflik, hingga penyediaan alat mitigasi guna melindungi lahan pertanian masyarakat.
β€Ž
β€œJangan sampai masyarakat terus dirugikan setiap musim panen. Petani di pedalaman menggantungkan hidup dari hasil sawah. Jika dibiarkan, persoalan ini bisa memukul ekonomi warga kecil,” tegasnya.
β€Ž
Sementara itu, Bupati Aceh Jaya, Safwandi, turut menanggapi keluhan masyarakat dan meminta BKSDA Provinsi Aceh lebih serius menangani konflik gajah liar yang dinilai semakin meresahkan warga.
β€Ž
β€œKita sangat berharap BKSDA Provinsi serius memenuhi perlindungan satwa dengan langkah yang tepat. Ini harus segera ditangani, termasuk penyediaan kontak kejut dan pengawasan di kawasan rawan konflik gajah,” ujar Safwandi.
β€Ž
Menurut Safwandi, penanganan konflik satwa liar merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawab BKSDA, sehingga masyarakat tidak boleh dibiarkan menghadapi risiko sendirian. Ia mengingatkan agar persoalan tersebut tidak terus berlarut tanpa solusi yang jelas.
β€Ž
β€œJangan sampai warga selalu disalahkan ketika berupaya melindungi lahannya, sementara kerugian yang dialami masyarakat tidak pernah benar-benar ditangani. Pemerhati lingkungan dan pihak terkait harus hadir memberi solusi, bukan sekadar melihat konflik ini terus berulang,” katanya.[]