Manisnya Duku Lamno
Catatan Nasir Nurdin/Pemred Portalnusa.com
BU Rusni tampak sigap memilah aneka buah di Toko Tiara Buah miliknya, di Lamno, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya.
“Neuci rasa, duku Lamno (coba rasa, duku Lamno),” kata Bu Rusni sesaat kami singgah di tokonya, persis di pinggir Jalan Nasional Banda Aceh-Calang-Meulaboh, berseberangan dengan SPBU Lamno, berjarak lebih kurang 80 km dari Banda Aceh.
Di Toko Tiara Buah milik Bu Rosni, sekitar pukul empat sore itu, Minggu, 12 Juli 2026, saya dan keluarga sedang dalam perjalanan kembali ke Banda Aceh dari Meulaboh. Kami singgah untuk beli boh giri (jeruk bali lamno) yang jadi langganan kami. Namun, belum lagi sempat membelah boh giri untuk makan di tempat, Bu Rusni sudah keduluan menyerahkan setangkai duku lamno untuk dicicipi.
“Pakiban? Na mameh?,” sergah Bu Rusni sebelum aku sempat mengomentari rasa buah yang selama ini dikenal berasal dari Palembang (Sumsel) atau Medan (Sumut).
“Kop mameh (sangat manis),” jawab saya, spontan. Karena memang manis. Sampai-sampai boh giri yang saya nikmati hampir bersamaan terasa hambar.
“Boh giri kon tabeu tapi kadipoh le mameh boh duku (rasa jeruk bali bukan hambar tetapi manisnya ditimpa manis duku),” kata Bu Rusni sambil tersenyum.
Menurut cerita Bu Rusni, duku lamno masih barang baru, bukan sesuatu yang diwariskan seperti durian, langsat, rambutan atau aneka buah lain yang sudah turun temurun.
“Duku lamno ban lhee thoen dibudiyakan di padum-padum boh gampong dalam Kecamatan Jaya (duku lamno baru sekitar tiga tahun dibudidayakan di beberapa kampung dalam wilayah Kecamatan Jaya),” ujar Bu Rusni di sela-sela melayani pembeli.
Salah satu gampong (desa) yang kini mengembangkan tanaman duku adalah Gampong Lhuet, Kecamatan Jaya.
Menurut warga setempat, karakter tanah di Aceh Jaya, khususnya di Kecamatan Jaya (Lamno) ternyata sangat cocok untuk tanaman duku, baik yang ditanam dari biji maupun hasil cangkokan.
“Masa produksi kalau ditanam dari biji agak lama tetapi kalau hasil stik (cangkok) tiga tahun sudah produksi,” ujar Bu Rusni.
Harga jual batang duku cangkokan sekitar Rp 35.000/batang. Asal cangkokan dari luar daerah yang bisa hidup subur di wilayah Kecamatan Jaya.
Sebenarnya, lanjut Bu Rusni, rasa manis duku Lamno tak beda-beda jauh juga dengan duku palembang atau duku medan. Namun duku dari luar sudah tak segar lagi jika dijual di Lamno karena sudah melewati perjalanan jauh membuat warna kulit kehitaman dan rasa juga berubah.
“Di sini duku yang baru dipanen bisa langsung dibawa oleh pemilik kebun atau agen ke pusat penjualan. Segar dan harga pun bisa ditekan, sekitar Rp 25.000/kg,” timpal putra Bu Rusni yang ikut melayani pelanggan.
Permintaan duku lamno relatif tinggi. Selain dijajakan oleh pedagang lokal juga dikirim ke luar kabupaten seperi ke Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan. Itu artinya, aroma dan manisnya duku lamno semakin menyebar dan mendapat pengakuan. Semoga kelak bisa menggantikan branding-nya duku palembang atau medan di Aceh.[]









