Muktarrudin Usman Nakhodai KSMI Aceh, Fokus Bangun Ekosistem Sepakbola Mini

Ketua Umum KSMI Pusat Dr. Ir. H. Yan Mulia Abidin, S.E., M.Sc. (kiri), Muktarrudin Usman (tengah), dan Wakil Ketua Umum KSMI Ir. Tundra Meliala, M.M. (kanan), saat penyerahan SK kepengurusan KSMI Aceh di Rukan Permata Senayan, Jakarta, Kamis, 24 September 2026. (Foto: Dok KSMI/Kolase: PORTALNUSA.com)

PORTALNUSA.com | JAKARTA – Komite Sepakbola Mini Indonesia (KSMI) Provinsi Aceh memasuki babak baru. Muktarrudin Usman kini resmi dipercaya memimpin KSMI Aceh setelah menerima Surat Keputusan (SK) kepengurusan dari Ketua Umum KSMI Pusat, Dr. Ir. H. Yan Mulia Abidin, S.E., M.Sc., Kamis, 24 September 2026.

Penyerahan SK berlangsung di ruang kerja Ketua Umum KSMI Pusat, Rukan Permata Senayan Blok A-6, Jalan Tentara Pelajar, Jakarta Selatan. Yan Mulia Abidin saat itu didampingi Wakil Ketua Umum KSMI, Ir. Tundra Meliala, M.M., GRCE., CPCC.

Dalam kepengurusan inti KSMI Aceh, Muktarrudin Usman dipercaya sebagai ketua, Muhammad Zubir sebagai sekretaris, dan Mariadi sebagai bendahara.

Kepengurusan tersebut nantinya akan diperkuat sejumlah komisi dan perangkat organisasi yang menangani kompetisi, teknik dan pengembangan, pemain dan klub, wasit, pembinaan usia muda, sepakbola mini wanita, media dan teknologi, medis, keamanan, suporter serta tanggung jawab sosial.

Struktur organisasi mencakup bidang organisasi, percepatan dan pengembangan, infrastruktur, Badan Liga serta perangkat yudisial.

Muktarrudin mengatakan, pembentukan kepengurusan KSMI Aceh bukan sekadar membangun struktur organisasi. Hal yang lebih penting, menurutnya, adalah menghadirkan pembinaan dan kompetisi yang mampu memberi ruang bagi pemain-pemain Aceh agar mampu berkembang.

“Tekad kita bagaimana KSMI Aceh ini berkembang. Kita ingin bangun pembinaan dan kompetisi yang baik sehingga pemain-pemain dari Aceh memiliki kesempatan untuk berkiprah di tingkat nasional,” ujar Muktarrudin.

Ia menyebut Aceh memiliki banyak pemain dan komunitas sepakbola yang selama ini berkembang melalui berbagai aktivitas. Potensi tersebut, kata dia, perlu dihimpun dalam sistem pembinaan yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Karena itu, KSMI Aceh akan membangun komunikasi dan kolaborasi dengan klub, komunitas, sekolah sepakbola, pemerintah daerah, dunia usaha serta pemangku kepentingan olahraga lainnya.

“Kita mulai dari Aceh. Organisasinya harus kuat, kompetisinya harus hidup dan pembinaannya harus berjalan. Dari situ kita berharap lahir pemain-pemain yang mampu bersaing dan membawa nama Aceh ke tingkat nasional,” katanya.

Menurut Muktarrudin, setiap komisi nantinya harus memiliki fungsi jelas dan tidak berhenti pada struktur administratif. Bidang kompetisi, misalnya, diharapkan mampu menopang penyelenggaraan pertandingan, sementara bidang teknik dan pengembangan diarahkan untuk meningkatkan kualitas permainan.

Pembinaan usia muda juga menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan regenerasi pemain. Sementara bidang pemain dan klub, wasit, sepakbola mini wanita, medis, keamanan, serta media dan teknologi diharapkan dapat bekerja secara terintegrasi.

“Kita tidak ingin organisasi ini hanya bergerak saat ada pertandingan. Yang kita bangun adalah ekosistemnya. Ada pembinaan, ada kompetisi, ada organisasi dan ada jalur bagi pemain untuk berkembang,” ungkap Muktarrudin.

KSMI Aceh selanjutnya akan melakukan konsolidasi internal dan melengkapi perangkat kepengurusan. Program kerja juga akan disusun dengan menyesuaikan kebutuhan pembinaan dan perkembangan sepakbola mini di Aceh.

Muktarrudin berharap KSMI Aceh dapat menjadi wadah bersama bagi pemain, klub dan komunitas sepakbola mini, sekaligus membuka jalur bagi talenta Aceh untuk tampil pada kompetisi yang lebih luas.

“Harapan kita sederhana, KSMI Aceh berkembang, sepakbola mini semakin kuat dan anak-anak Aceh mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk menunjukkan kemampuan mereka sampai ke kancah nasional,” pungkasnya. []