Kenduri Sastra Aceh 2026 Usai, Perkuat Jejaring Komunitas dan Kenalkan Karya Sastra Aceh

Kenduri Sastra Aceh 2026 menjadi ruang temu pegiat sastra dan literasi Aceh yang berlangsung 12–27 September 2026. (Foto: Dok.Sophie’s Sunset Library/Kolase: PORTALNUSA.com)

PORTALNUSA.com | BANDA ACEH – Kenduri Sastra Aceh 2026 resmi berakhir setelah berlangsung pada 12–27 September 2026. Kegiatan yang digelar Sophie’s Sunset Library dengan dukungan Direktorat Pengembangan Budaya Digital Kementerian Kebudayaan itu menjadi ruang pertemuan pegiat sastra dan literasi sekaligus mengenalkan kembali karya sastra Aceh kepada generasi muda.

Rangkaian kegiatan mencakup pembahasan sastra Aceh dari karya klasik hingga kontemporer, workshop menulis, sastra grafis, diskusi buku, tur sejarah, ruang komunitas, hingga pameran arsip dan karya Ali Hasjmy.

Koordinator Kenduri Sastra Aceh 2026, Raihan Lubis, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan memperkuat jejaring antarkomunitas sastra dan literasi di Aceh.

“Kenduri Sastra Aceh 2026 ini diharapkan dapat menjadi ruang temu bagi para pegiat sastra dan juga literasi yang ada di Aceh, agar dapat bertemu dan berjejaring,” ujar Raihan.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar sehingga karya-karya sastra Aceh semakin dikenal dan mendorong lahirnya karya baru dari Aceh.

Dari Workshop hingga Sastra Klasik

Kegiatan diawali workshop menulis cerpen bersama penulis asal Bireuen, Ida Fitri. Lebih dari 40 peserta mengikuti pelatihan yang membahas proses penulisan hingga upaya membawa karya ke tingkat nasional.

Workshop lainnya berupa sastra grafis yang memadukan karya sastra dengan ilustrasi visual, dipandu Idrus bin Harun dari ekosistem Kanot Bu, Banda Aceh.

Peserta juga diajak membahas sejumlah karya peraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2026, termasuk novel Ikhtiar yang Tak Benar-benar karya Nukila Amal dan kumpulan cerpen Hantu Ulang-alik karya Ratri Ninditya.

Khazanah sastra klasik Aceh turut mendapat perhatian. Bustanussalatin karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry dibahas dari perspektif ruang publik Banda Aceh dalam diskusi di Taman Sari Bustanussalatin yang dipandu Prof. Dr. Cut Dewi dari Universitas Syiah Kuala.

Sementara Hikayat Pocut Muhammad dibahas melalui tur berjalan kaki di kawasan Peulanggahan dan Gampong Jawa. Tur yang dipandu arkeolog Deddy Satria itu mengajak peserta menelusuri sejumlah jejak sejarah yang berkaitan dengan kisah perang dan perebutan kekuasaan dalam hikayat tersebut.

Perkuat Kolaborasi Komunitas

Sejumlah komunitas literasi juga dilibatkan, antara lain Aceh Book Party, T36 Rak Baca, Sisi Buku, serta Jual Buku Aceh yang mewakili toko buku independen di Banda Aceh.

Kepala Balai Bahasa Aceh, Muhammad Irsan, mengatakan kegiatan semacam itu dapat membuka ruang kolaborasi lebih luas untuk menjaga keberlangsungan ekosistem sastra di Aceh.

“Kami berharap kegiatan-kegiatan ini mampu menjadi pembuka kolaborasi lintas sektor dan juga berbagai komunitas dalam upaya menjaga kelangsungan ekosistem sastra di Aceh,” ujarnya.

Pameran Arsip Ali Hasjmy

Puncak Kenduri Sastra Aceh 2026 ditandai dengan pameran karya dan arsip Ali Hasjmy di Museum dan Perpustakaan Ali Hasjmy.

Pameran tersebut dilengkapi pembacaan puisi oleh L.K. Ara dan Vandols serta diskusi publik yang menghadirkan Prof. Syabuddin Gade dari UIN Ar-Raniry, peneliti Mirza Ardi, dan Ir. Mohammad Iqbal Bharata yang mewakili keluarga Ali Hasjmy.

Diskusi tidak hanya membahas perjalanan dan karya Ali Hasjmy, tetapi juga mengajak peserta membaca kembali gagasan dan pemikirannya dalam konteks kehidupan saat ini.

“Bukan semata untuk mengenang, tetapi untuk membaca ulang, mempertanyakan, dan menemukan makna baru dalam konteks kekinian,” kata Prof. Syabuddin Gade.

Sophie’s Sunset Library berharap Kenduri Sastra Aceh 2026 dapat menjadi pemantik kolaborasi baru sekaligus memperkuat komunitas sastra dan literasi di Aceh.

Komunitas yang didirikan Raihan Lubis bersama Dendy Montgomerry itu bermula dari taman bacaan masyarakat di Lampuuk, Aceh Besar, pada 2022. Sejak Mei 2026, Sophie’s Sunset Library juga membuka ruang kedua di Geuceu Komplek, Banda Aceh, untuk memperluas akses masyarakat terhadap kegiatan literasi dan sastra. []