Safrizal ZA Inisiasi Pengabdian Pascabencana, Dokter USK Turun Langsung Layani Penyintas di Aceh Tamiang

Safrizal ZA menginisiasi pengabdian masyarakat USK di Aceh Tamiang, menghadirkan layanan kesehatan dan dukungan pemulihan.b(Foto : Dok.Satgas PRR untuk portalnusa.com)

PORTALNUSA.com | ACEH TAMIANG – Pemulihan pascabencana tidak hanya persoalan membangun kembali rumah, jalan, ataupun jembatan rusak. Yang tak kalah penting adalah memastikan masyarakat terdampak tetap mendapatkan layanan kesehatan yang layak. Berangkat dari semangat tersebut, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Syiah Kuala (USK) sekaligus Ketua Posko Wilayah Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh, Dr. Safrizal ZA, menginisiasi program pengabdian masyarakat pascabencana dengan menghadirkan layanan kesehatan langsung ke lokasi.

Program itu terkoordinasi melalui keterlibatan Fakultas Kedokteran USK yang telah menurunkan tim medis dan tenaga ahli ke Hunian Sementara (Huntara) para korban banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Senin,15 Juni 2026.

Safrizal mengatakan, dalam situasi pascabencana diperlukan hal berupa pendekatan yang lebih proaktif agar masyarakat tidak semakin mengalami kesulitan utamanya akses layanan kesehatan.

“Dalam kondisi darurat bukan masyarakat yang harus datang, namun dokter-dokter juga bisa bergerak cepat. Ini merupakanvbagian dari bakti perguruan tinggi kepada masyarakat,” ungkap Safrizal kepada media ini, Senin, 15 Juni 2026.

Melalui program tersebut, USK telah mengerahkan sejumlah tenaga spesialis, mulai dari dokter spesialis jantung anak, obstetri dan ginekologi, hingga psikolog juga diturunkan untuk membantu pemulihan kesehatan fisik dan mental para penyintas banjir.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran yang strategis dalam membantu pemerintah guna percepatan pemulihan masyarakat terdampak. Karena itu, ia berharap model pengabdian seperti ini dapat diperluas ke wilayah lain yang masih menghadapi dampak dari bencana.

Safrizal juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi, termasuk dari luar Aceh, guna memperkuat upaya pemulihan masyarakat secara berkelanjutan.

Safrizal ZA meninjau sumur bor dan layanan kesehatan bagi warga penyintas banjir di Aceh Tamiang. Menurutnya, ilmu pengetahuan menemukan maknanya ketika mampu memberikan manfaat nyata bagi kemanusiaan dan pemulihan masyarakat. (Foto : Dok.Satgas PRR untuk portalnusa.com)

Tinjau Sumur Bor dan PDAM, Pastikan Pasokan Air Bersih

Selain memberikan pelayanan kesehatan, Safrizal meminta tim USK yang turun ke lapangan turut mencatat berbagai persoalan yang ditemukan sebagai bahan evaluasi dan masukan bagi pemerintah.

“Tim yang telah turun ke masyarakat, tolong catat apa yang bisa diberikan kepada saya baik sebagai Ketua MWA maupun Kepala Posko Satgas Bencana. Sarankan kepada kami apa yang bisa kita lakukan,” pesannya.

Bagi Safrizal, ilmu pengetahuan harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat, terutama saat mereka menghadapi masa-masa sulit pascabencana.

“Ilmu tidak hanya sekadar ilmu, tetapi ilmu pengetahuan menemukan maknanya ketika mampu memberikan manfaat bagi manusia,” tegasnya.

Fasilitas Kesehatan Mulai Pulih

Upaya pemulihan sektor kesehatan pascabencana di Aceh juga menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan Posko Satgas PRR per 8 Juni 2026, seluruh rumah sakit dan puskesmas yang sempat terdampak di wilayah bencana kini telah kembali beroperasi normal.

Dari total 2.952 Puskesmas Pembantu yang terdampak, sebanyak 99,76 persen telah pulih, sementara enam unit lainnya masih beroperasi menggunakan fasilitas sementara.

Safrizal ZA berdialog dengan tim Fakultas Kedokteran USK saat pelayanan kesehatan bagi penyintas banjir di Huntara Aceh Tamiang. Program ini menjadi bagian pengabdian masyarakat perguruan tinggi dalam mendukung pemulihan pascabencana. (Foto: Dok.Satgas PRR untuk portalnusa.com)

Selain meninjau layanan kesehatan, Safrizal juga mengecek langsung sejumlah program pemulihan infrastruktur dasar di Aceh Tamiang, termasuk penyediaan air bersih bagi masyarakat terdampak.

Ia meninjau sumur bor yang dibangun Satgas PRR di Gampong Johar, yang kini menjadi sumber air utama bagi ratusan kepala keluarga. Di lokasi tersebut tercatat sekitar 300 KK bermukim, dengan sebagian telah menerima Dana Tunggu Hunian (DTH) dan sisanya masih menunggu proses verifikasi bantuan rumah rusak.

Kunjungan kerja ditutup dengan peninjauan kondisi PDAM Mon Krueng Baro yang mengalami kerusakan pada mesin intake serta ribuan meteran pelanggan akibat bencana.

Untuk mempercepat pemulihan layanan air bersih, Satgas PRR akan menyalurkan bantuan 25 ton Poly Aluminium Chloride (PAC) food grade yang digunakan untuk proses penjernihan air secara massal.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan pemulihan pascabencana tidak hanya membangun kembali infrastruktur, tetapi juga mengembalikan kualitas hidup masyarakat yang terdampak. []