“Coba Sekali-kali Lihat Kami”, Harapan Bang Ilyas untuk Pengrajin Kecil Pasar Aceh
PORTALNUSA com | BANDA ACEH – Suara mesin pengasah batu terdengar di salah satu sudut Pasar Aceh, Jalan Chik Pante Kulu, Banda Aceh. Sore itu, aktivitas pasar tampak tidak terlalu ramai. Namun, di tengah lalu-lalang yang mulai lengang, seorang pria masih tekun mengerjakan batu cincin di mesin kecil yang selalu menemani hari-harinya beraktifitas.
Namanya Ilyas. Bagi sebagian orang, aktivitas mengasah batu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Ilyas, pekerjaan itu telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya selama hampir empat dekade.
Ia mulai menggeluti profesi sebagai pengrajin batu cincin di kawasan Pasar Aceh sejak 1986, ketika masih duduk di bangku SMP.
Waktu telah berubah. Selera berganti, tren batu akik juga sempat booming, sementara daya beli masyarakat ikut memengaruhi keberlangsungan usaha kecil seperti yang dijalankan bang Ilyas.
Namun hingga kini, ia masih bertahan.
“Capek sekali. Saya hanya mengandalkan kemauan dan kemampuan sendiri,” kata Ilyas saat berbincang dengan wartawan portalnusa.com di sela aktivitasnya.
Selama puluhan tahun menggeluti usaha tersebut, Ilyas mengaku belum banyak merasakan perhatian yang secara khusus diarahkan untuk membantu pengrajin kecil seperti dirinya agar dapat mempertahankan usaha.
Baginya, persoalan bukan sekadar mempertahankan lapak atau menjual batu cincin. Ada keluarga yang harus dihidupi dari penghasilan yang tidak selalu datang setiap hari.
Di tengah kondisi ekonomi yang menurutnya semakin sulit, ia berharap pedagang kecil di kawasan pasar juga mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah terutama dirinya yang hari ini juga sangat terdampak pada perubahan kondisi ekonomi.
“Harusnya pedagang kecil seperti kami ini bisa mendapatkan prioritas. Coba sekali-kali lihat kami yang ada di dalam pasar ini,” ujarnya.
Bertahan di tengah perubahan zaman
Batu akik pernah menjadi bagian dari tren besar di tengah masyarakat. Pada masanya, batu cincin tidak hanya dipakai sebagai aksesori, tetapi juga menjadi barang koleksi yang memiliki nilai tersendiri bagi penggemarnya.
Kini, suasananya berbeda.
Para pengrajin yang masih bertahan harus menghadapi perubahan selera, persaingan usaha dan kondisi ekonomi, Ilyas memilih tetap bertahan dengan keterampilan yang telah ia pelajari sejak remaja.
Puluhan tahun berada di Pasar Aceh membuat pekerjaannya bukan hanya soal mengasah batu. Ia menjadi saksi bagaimana kawasan perdagangan itu berubah dari waktu ke waktu, sementara profesi tradisional seperti pengrajin batu cincin perlahan semakin jarang terlihat.
Harapannya sederhana: tetap bisa bekerja, mempertahankan keahliannya dan membawa pulang penghasilan untuk keluarga.
Ia berharap pemerintah maupun pihak yang berkompeten tidak hanya melihat geliat ekonomi dari usaha-usaha besar, tetapi juga menoleh kepada pedagang kecil yang selama bertahun-tahun bertahan dengan kemampuan sendiri.
“Dirinya berharap Bagaimana ia bisa terus berdagang dan menghidupi keluarga,” kata Ilyas.
Di tengah perubahan zaman, mesin pengasah di meja kecilnya masih terus berputar. Bagi Ilyas, suara itu bukan sekadar bunyi alat kerja, tetapi tanda bahwa sebuah profesi yang telah dijalaninya sejak 1986 masih belum benar-benar menyerah kepada zaman. []











