GeoFlux, Inovasi AI dari Aceh Terpilih Google DeepMind Accelerator Asia Pasifik
PORTALNUSA.com | SINGAPURA – Inovasi kecerdasan buatan (AI) untuk mitigasi bencana yang dikembangkan dari Aceh mendapat perhatian di tingkat Asia Pasifik.
Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) bersama Data Science and AI Research Center (DSAI-RC) Universitas Syiah Kuala (USK) dan UIN Ar-Raniry terpilih mengikuti Google DeepMind Accelerator: AI for the Planet (APAC) 2026 di Singapura.
Konsorsium tersebut membawa GeoFlux, platform berbasis AI yang dikembangkan untuk memantau, menganalisis hingga memprediksi risiko kebencanaan serta hidrometeorologi, terutama banjir dan longsor.
GeoFlux terpilih dari 630 inisiatif yang mengikuti seleksi di kawasan Asia Pasifik. Hanya 16 organisasi yang akhirnya mampu masuk dalam program itu, yang mempertemukan perusahaan rintisan, lembaga riset dan organisasi nirlaba pengembang solusi teknologi untuk persoalan lingkungan dan perubahan iklim.

Program berlangsung selama tiga bulan dan diawali bootcamp selama lima hari, 7–11 September 2026, di kantor pusat Google Asia Pasifik, Singapura.
Dikembangkan Sejak 2022
GeoFlux mulai dikembangkan sejak 2022 melalui kerja sama YEL dan USK dengan melibatkan akademisi dan praktisi di bidang AI, kebencanaan dan konservasi.
Pada tahap awal, sistem ini menggunakan machine learning guna pengumpulan informasi bencana dari berbagai pemberitaan media lokal dan nasional. Data kemudian diolah dan ditampilkan melalui WebGIS untuk mempercepat pengumpulan informasi kebencanaan.
Kini GeoFlux diarahkan untuk berkembang menjadi platform yang tidak hanya memantau kejadian bencana, tetapi juga akan membantu memprediksi risiko.
Direktur Konservasi YEL sekaligus inisiator GeoFlux, M. Yakob Ishadamy, mengatakan keterlibatan dalam program Google DeepMind menjadi peluang untuk memperkuat hubungan antara riset, teknologi AI dan kebutuhan kebijakan penanggulangan bencana.
“Terpilihnya GeoFlux ke dalam ekosistem Google DeepMind memberi kami lompatan teknologi untuk bisa menjembatani kesenjangan antara riset akademik, kecerdasan buatan, dan kebijakan penanggulangan bencana di daerah,” kata Yakob.
Ia menargetkan GeoFlux nantinya dapat mendukung sistem peringatan dini hingga tingkat desa.
Ditargetkan Prediksi Banjir 6–72 Jam
Melalui program tersebut, GeoFlux akan dikembangkan menjadi sistem prediksi banjir multimodal dengan waktu peringatan sekitar 6 hingga 72 jam, serta peluang pengembangan lebih lanjut hingga enam hari.
Sistem ini akan menggabungkan berbagai sumber data, termasuk informasi hidrometeorologi, perubahan tutupan hutan, laporan bencana, pemberitaan dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat.
Salah satu pengembangannya adalah pemanfaatan data satelit untuk mendeteksi perubahan tutupan hutan dalam skala kecil, terutama di kawasan daerah aliran sungai (DAS) kritis seperti Leuser dan Ulu Masen.
GeoFlux juga akan mengembangkan pemrosesan data multibahasa untuk mengekstraksi informasi dari laporan bencana dan laporan masyarakat dalam bahasa Indonesia maupun bahasa daerah.
Integrasi berbagai sumber data tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan kebijakan berbasis data melalui konsep “Satu Data Bencana.”
Dibawa Tiga Peneliti Doktoral
Dalam program di Singapura, YEL mengirimkan Zakiul Fuady sebagai project leader, didampingi Rizal Wahyudi, peneliti DSAI-RC USK sekaligus AI Engineer, dan Zuhra Sofyan, AI Specialist dari UIN Ar-Raniry.
Ketiganya saat ini masih berstatus mahasiswa doktoral. Zakiul menempuh pendidikan doktoral di Technische Hochschule Köln, Rizal di Universitas Syiah Kuala, sedangkan Zuhra di Universität Potsdam.
Zakiul mengatakan pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk memperdalam pemanfaatan data dan AI dalam mitigasi bencana.
“Ini adalah kesempatan terbaik bagi kami untuk belajar lebih dalam memahami data dan penggunaannya dalam mitigasi bencana alam yang kerap kita alami di Aceh,” ujarnya.
Selama bootcamp, tim GeoFlux mendapat pelatihan teknis dan strategis, termasuk arsitektur AI, etika pengembangan model serta pendampingan dari peneliti Google DeepMind dan Google Cloud.
Bagi YEL dan mitranya, program tersebut menjadi langkah penting untuk membawa GeoFlux dari proyek riset menuju teknologi yang dapat diterapkan dalam mitigasi bencana.
Pengembangan itu juga diharapkan membuka peluang bagi Aceh menjadi salah satu lokasi percontohan pemanfaatan AI untuk perlindungan ekosistem dan pengurangan risiko bencana di kawasan Asia Pasifik. []











