Sabirin Lamno Buka Kenangan Lama Bersama Nasir Nurdin, dari Radio hingga Panggung Festival

Sabirin Lamno dan Nasir Nurdin kembali merajut kenangan lama, dari aktivitas di Radio Expo hingga panggung hiburan yang mewarnai perjalanan mereka di Aceh, Sabtu, 31 Oktober 2026. (Foto: Ardy/Kolase: Portalnusa.com)

PORTALNUSA.com | BANDA ACEH – Nama Nasir Nurdin selama ini dikenal dalam dunia pers Aceh. Namun, di balik aktivitasnya sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh, tersimpan cerita lama yang menghubungkannya dengan dunia seni dan hiburan.

Kisah itu kembali mengemuka saat Portalnusa.com, Sabtu, 31 Oktober 2026, mempertemukan Nasir Nurdin dengan penyanyi legendaris Aceh, Sabirin Lamno, dalam sebuah silaturahmi dan ngopi bareng. Obrolan santai keduanya perlahan membawa mereka kembali ke masa ketika panggung hiburan menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.

Sabirin mengingat Nasir sebagai sosok yang aktif menggelar berbagai acara hiburan, termasuk lomba karaoke dari satu daerah ke daerah lain. Sementara itu, dirinya bersama sejumlah penyanyi, di antaranya Kruniatun Z dan Nurhayati, kerap mengisi acara yang diselenggarakan Nasir.

“Dulu Bang Nasir sering bikin acara. Saya, Kruniatun Z, Nurhayati dan beberapa teman lainnya juga sering mengisi acara yang dibuat Bang Nasir. Kalau tidak salah, waktu itu Bang Nasir masih siaran di Radio Expo,” kenang Sabirin.

Bagi keduanya, kenangan tersebut bukan sekadar cerita tentang panggung dan hiburan. Ada masa ketika kegiatan seni menjadi ruang bagi mereka untuk tetap berkarya, meski Aceh saat itu berada dalam situasi konflik.

“Dulu suasananya berbeda dengan sekarang. Waktu itu masih masa konflik, tetapi kami tetap aktif berkarya,” ujar Nasir, mengenang masa tersebut.

Sabirin Lamno mengaku telah cukup lama mengenal sosok Nasir. Menurutnya, Nasir merupakan pribadi yang menyenangkan dan aktif, baik dalam membangun kegiatan maupun menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.

Kedekatan itu juga terasa dari latar belakang geografis mereka yang sama-sama berasal dari kawasan pantai barat Aceh. Pada masa itu, Lamno belum menjadi bagian dari Kabupaten Aceh Jaya, yang kemudian terbentuk pada 2002.

Pertemuan tersebut menghadirkan kembali potongan perjalanan lama yang mungkin tak banyak diketahui publik. Sebelum dikenal luas melalui kiprahnya di dunia jurnalistik, Nasir Nurdin pernah menjadi bagian dari geliat hiburan lokal Aceh, ketika acara-acara rakyat, festival dan lomba karaoke mempertemukan seniman serta masyarakat lintas daerah.

Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, pertemuan Nasir Nurdin dan Sabirin Lamno menjadi pengingat bahwa perjalanan seseorang kerap menyimpan cerita di luar profesi yang melekat pada dirinya hari ini.

Dari panggung hiburan hingga dunia pers, waktu telah membawa mereka ke babak kehidupan yang berbeda. Namun, kenangan tentang masa ketika mereka sama-sama aktif berkarya tetap menjadi bagian dari cerita panjang perjalanan keduanya. []