Ketua PC ISNU Pidie Hadiri Haul ke-115 Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi di Solo

Ketua PC ISNU Pidie, Dr. Tgk Nanda Saputra, MPd (berdiri) menghadiri Haul ke-115 Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Solo yang dipusatkan di Masjid Riyadh, Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Solo, Minggu, 4 Oktober 2026. (Foto Dokumentasi PC ISNU Pidie untuk Portalnusa.com)

PORTALNUSA.com | PIDIE – Ketua Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Pidie, Dr. Tgk. Nanda Saputra, MPd, menghadiri Haul ke-115 Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi di Masjid Riyadh, Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah.

Kegiatan haul berlangsung, 30 September hingga 4 Oktober 2026 dan dihadiri ratusan ribu jamaah dari berbagai daerah di Indonesia maupun sejumlah negara.

Nanda mengatakan, kehadirannya dalam kegiatan tersebut menjadi momen memperkuat kecintaan kepada ulama, meneladani akhlak Rasulullah SAW, sekaligus mempererat persaudaraan umat lintas daerah.

“Momentum Haul Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Solo ini menjadi ruang penting memperkuat kecintaan kepada ulama, meneladani akhlak Rasulullah SAW, sekaligus membangun persaudaraan lintas daerah,” ujar Nanda kepada Portalnusa.com, Minggu, 4 Oktober 2026.

Menurutnya, antusiasme jamaah tidak terlepas dari besarnya warisan keilmuan dan keteladanan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, ulama asal Hadramaut, Yaman, yang dikenal luas melalui karya Maulid Simtudduror.
Karya tersebut hingga kini menjadi bagian dari tradisi pembacaan maulid di berbagai komunitas Muslim, termasuk di Indonesia.

“Haul ini memperlihatkan kuatnya kecintaan umat kepada ulama. Ratusan ribu jamaah hadir dengan harapan memperoleh keberkahan dari Allah SWT, mempererat silaturahmi, serta mengambil pelajaran dari kehidupan dan akhlak para ulama,” ungkapnya.

Nilai Pendidikan dan Keteladanan

Nanda menjelaskan, tradisi haul memiliki nilai pendidikan dan keteladanan yang penting untuk terus dihidupkan. Melalui doa, selawat, dan tausiah, jamaah diajak mengenang jasa ulama sekaligus mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kecintaan kepada ulama tidak cukup hanya diwujudkan melalui kehadiran dalam kegiatan keagamaan, namun juga harus tercermin dalam perilaku sosial.
“Keteladanan itu harus terlihat dalam perilaku keseharian, yaitu menghormati sesama, menjaga lisan, membantu orang yang membutuhkan, dan merawat persaudaraan. Nilai-nilai itu yang harus dibawa dan diterapkan ketika kembali ke daerah masing-masing,” kata Nanda yang akrab disapa Gus Nanda.

Ia juga menilai penyelenggaraan Haul ke-115 Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kota Surakarta, masyarakat, jamaah, dan relawan, turut membantu kelancaran rangkaian kegiatan.

Bantuan tersebut diwujudkan dalam berbagai bentuk, mulai dari penyediaan bahan pangan, peralatan, tempat beristirahat hingga tenaga untuk melayani dan membantu para jamaah selama kegiatan berlangsung.

“Kesediaan masyarakat membantu jamaah menunjukkan bahwa tradisi keagamaan juga dapat menjadi penggerak kepedulian sosial,” ujarnya.

Masih menurut Nanda, salah satu keindahan yang terlihat dalam pelaksanaan haul adalah keterlibatan masyarakat dalam melayani para jamaah. Sejumlah warga dan relawan menyediakan makanan dan minuman, tempat beristirahat, serta membantu memastikan rangkaian kegiatan berjalan dengan baik.

“Semangat berbagi seperti ini merupakan teladan yang patut kita rawat. Kecintaan kepada ulama harus berjalan seiring dengan kepedulian kepada sesama,” pungkasnya. []