Perkuat Pembinaan Mualaf, FDP Kirim Enam Da’i ke Perbatasan Aceh Singkil

Serah terima da’i perbatasan kepada pihak Kecamatan Danau Paris, Kabupaten Aceh Singkil. (Dok FDP)

PORTALNUSA.com | BANDA ACEH – Upaya penguatan dakwah di wilayah perbatasan kembali dilakukan oleh Forum Dakwah Perbatasan (FDP) dengan mengirim enam da’ ke sejumlah gampong di Kabupaten Aceh Singkil.

Langkah ini tidak hanya untuk menjawab kebutuhan masyarakat setempat, tetapi juga menjadi bagian dari misi besar pembinaan keagamaan di kawasan yang memiliki dinamika sosial-keagamaan yang cukup kompleks tersebut.

Ketua FDP, dr. Nurkhalis, Rabu, 6 Mei 2026 mengatakan bahwa penugasan para da’i tersebut telah ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK). Mereka akan mengemban amanah dakwah selama satu tahun penuh di wilayah perbatasan, khususnya di Kecamatan Danau Paris.

“Para da’i akan fokus memakmurkan masjid dan mushalla melalui shalat berjamaah lima waktu, mengajarkan Iqra’ dan Alquran, membimbing praktik ibadah, serta menghidupkan pengajian rutin dengan materi tauhid, fiqh, dan akhlak,” ujar Nurkhalis.

Lebih dari itu, para da’i juga memiliki tanggung jawab strategis dalam melakukan kaderisasi generasi muda, membina mualaf, serta memperkuat hubungan sosial keagamaan di tengah masyarakat. Mereka juga akan menjalankan peran sebagai khatib Jumat dan penggerak kegiatan dakwah lainnya.

Adapun enam desa yang menjadi lokasi penugasan meliputi Lae Geucheh, Situban Makmur, Lae Balno, Lae Sipola Singkohor, Teluk Nibong, dan Suka Makmur.

Seluruh desa tersebut berada di wilayah Kecamatan Danau Paris yang berbatasan langsung dengan wilayah Sumatera Utara.

Tantangan Pembinaan Mualaf

Kawasan perbatasan Aceh Singkil dikenal sebagai daerah dengan tingkat interaksi lintas budaya dan agama yang cukup tinggi.

Kondisi ini menjadikan wilayah tersebut sebagai salah satu titik strategis dalam penguatan identitas keislaman masyarakat, khususnya bagi para mualaf yang jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun.

Minimnya akses terhadap pembinaan agama yang intensif sering kali menjadi tantangan utama. Banyak mualaf yang membutuhkan pendampingan berkelanjutan, tidak hanya dalam aspek ibadah, tetapi juga dalam penguatan aqidah dan integrasi sosial di tengah masyarakat muslim. Kehadiran da’i di wilayah ini diharapkan mampu menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut.

Dakwah tidak hanya dimaknai sebagai ceramah, tetapi juga sebagai proses pendampingan hidup yang menyentuh aspek spiritual, sosial, dan kultural masyarakat perbatasan.

Selama ini, FDP dikenal sebagai salah satu lembaga yang konsisten mengirim da’i ke wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), termasuk kawasan perbatasan Aceh. Program pengiriman da’i bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari strategi dakwah berbasis kebutuhan masyarakat.

Di berbagai daerah perbatasan, kehadiran da’i FDP terbukti mampu menghidupkan kembali fungsi masjid, meningkatkan literasi Alquran serta membangun kesadaran keagamaan masyarakat.

Tidak sedikit pula da’i yang berhasil mencetak kader-kader muda yang kemudian melanjutkan estafet dakwah di daerahnya.

Koordinator FDP Wilayah Aceh Singkil, Ustaz Muchlis Pohan, turut serta menyerahterimakan para da’i yang akan bertugas kepada Unsur Muspika Danau Paris sebagai bentuk sinergi antara lembaga dakwah dan pemerintah setempat.

Langkah ini menunjukkan bahwa dakwah di wilayah perbatasan bukan hanya tugas individu atau kelompok tertentu, tetapi menjadi tanggung jawab bersama dalam menjaga nilai-nilai keislaman sekaligus memperkuat ketahanan sosial masyarakat.

Dengan pengiriman enam da’i ini, FDP kembali menegaskan komitmennya untuk hadir di garis terdepan dakwah, memastikan bahwa cahaya Islam tetap menyinari hingga ke wilayah-wilayah yang paling membutuhkan.

FDP terus memperkuat perannya sebagai lembaga sosial-keagamaan yang fokus menjaga akidah umat Islam di wilayah perbatasan.

Sejak mulai berkiprah pada 2015, FDP telah menjalankan berbagai program pembinaan di sejumlah daerah seperti Aceh Singkil, Aceh Tenggara, Subulussalam, hingga Aceh Tamiang.           Beragam program strategis dijalankan untuk menjawab kebutuhan masyarakat di wilayah 3T seperti pemberian beasiswa pendidikan bagi anak-anak perbatasan mulai tingkat pesantren, perguruan tinggi hingga pascasarjana

Juga ada peogram pembangunan masjid dan mushalla di daerah terpencil, layanan pengobatan massal, pembangunan rumah dhuafa, hingga pemberdayaan ekonomi melalui bantuan modal usaha tanpa riba.

Selain itu, FDP juga aktif menempatkan da’i di pedalaman, menyalurkan hewan kurban serta mengembangkan sekolah kader da’i sebagai upaya keberlanjutan dakwah. []