Rakyat Kelaparan, Pejabat Pesta Anggaran: Luka Sosial Aceh
Oleh: Subki Muhammad Bintang/Ketua Umum Lembaga Peumulia Bangsa Atjeh (PBA)
DARI kacamata sosial, apa yang terjadi di Aceh hari ini adalah jurang pemisah yang makin lebar dan menyakitkan.
Di satu sisi, kita saksikan ratusan ribu warga di gampong dan pelosok berjuang keras sekadar untuk makan. Harga kebutuhan pokok melambung, pendapatan tak sebanding, dan banyak keluarga hidup pas-pasan, bahkan ada yang kekurangan gizi.
Penderitaan ini dirasakan nyata, menimbulkan kesedihan, ketakutan, dan keprihatinan mendalam di tengah masyarakat.
Di sisi lain, kita melihat pemimpin dan pejabat hidup dalam kemewahan. Anggaran negara yang seharusnya milik bersama, dihamburkan untuk pesta, jamuan, perjalanan, dan fasilitas mewah.
Dana Hibah, Pokir, hingga triliunan Dana Abadi yang diam bertahun-tahun, seolah hanya menjadi milik kalangan atas, sementara rakyat biasa hanya menjadi penonton.
Ini bukan sekadar masalah uang, tapi hancurnya rasa kebersamaan dan persaudaraan.
Di budaya Aceh yang menjunjung tinggi saree, tolong-menolong, dan persamaan derajat, pemimpin seharusnya menjadi yang paling menderita saat rakyat susah, bukan yang paling bersenang-senang.
Ketika pejabat berpesta sementara tetangganya kelaparan, berarti ikatan sosial kita putus. Hilang rasa malu, hilang rasa tanggung jawab, dan hilang rasa memiliki sesama anak negeri.
Kondisi ini melahirkan rasa tidak adil, kemarahan, dan kekecewaan mendalam. Masyarakat merasa dikhianati, merasa tidak dianggap, dan merasa janji damai serta otonomi khusus hanya jadi kata-kata kosong.
Jika jurang sosial ini dibiarkan, persatuan Aceh yang dibangun dengan darah dan air mata pasca-MoU Helsinki, perlahan akan runtuh kembali.
Kami tegaskan: pesta anggaran di tengah rakyat kelaparan adalah kejahatan sosial, aib budaya, dan dosa kemanusiaan.
Kami minta segera hentikan pemborosan, salurkan semua sumber daya untuk pemenuhan kebutuhan dasar, dan pulihkan rasa keadilan sosial.
Ingatlah: kemuliaan Aceh bukan dari megahnya kantor pejabat, tapi dari bahagia dan terpenuhinya hidup seluruh rakyatnya.[]





