Baitul Mal Aceh Gandeng Rumah Zakat Dampingi 98 Kelompok Usaha
PORTALNUSA.com | BANDA ACEH β Baitul Mal Aceh (BMA) menggandeng Rumah Zakat sebagai mitra pendampingan pemberdayaan ekonomi bagi 98 penerima manfaat yang tersebar di 17 kabupaten/kota di Aceh.
Sebanyak 91 penerima merupakan Usaha Kelompok Dayah dan tujuh lainnya Kelompok Swadaya Masyarakat.
Ketua Badan BMA, Tgk H. Muhammad Yunus M. Yusuf, mengatakan program tersebut bertujuan mendorong kemandirian ekonomi lembaga dayah dan masyarakat melalui pengembangan usaha produktif dan berkelanjutan.
βProgram ini menjadi wujud nyata optimalisasi dana infak dan sedekah agar berdaya guna secara produktif dan berkelanjutan, bukan sekadar bantuan konsumtif jangka pendek,β kata Yunus.
Dalam kerja sama tersebut, Rumah Zakat melakukan pendampingan teknis dan manajemen usaha, monitoring dan evaluasi, serta membantu konsolidasi data penerima manfaat.
Program pemberdayaan itu mencakup sejumlah sektor usaha. Kantin dayah menjadi sektor terbesar dengan 53 kelompok, diikuti peternakan 20 kelompok, jasa dan perdagangan 15 kelompok, pertanian dan perkebunan lima kelompok, industri pengolahan dan usaha kreatif empat kelompok, serta perikanan satu kelompok.
Pada sektor peternakan, usaha yang dikembangkan meliputi kambing, domba/kibas, sapi, ayam petelur, puyuh petelur, dan bebek petelur. Sementara sektor pertanian dan perkebunan mencakup cabai, kelapa sawit, dan jamur tiram.
Sektor industri pengolahan dan kreatif meliputi roasting kopi, olahan cokelat, serta produk berbahan daun kelor. Adapun sektor jasa dan perdagangan mencakup depot air RO, jasa menjahit, bekam dan refleksi, penjualan susu kambing, toko sembako, minimarket, ATK dan fotokopi, toko kitab, pangkalan LPG, busana muslim, serta toko aksesoris.
Untuk sektor perikanan, program mencakup budidaya ikan air tawar.
Salah satu penerima manfaat adalah Dayah Masyraf di Desa Keuneu-Eu, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Pimpinan dayah, Tgk Edi Fitriadi, mengatakan bantuan modal dan pendampingan membantu mengembangkan usaha ternak kambing sekaligus memperbaiki pengelolaan keuangan.
Menurut Edi, kandang yang sebelumnya terbatas kini mampu menampung hingga 70 ekor kambing. Hasil usaha tersebut juga mulai dimanfaatkan untuk membantu santri kurang mampu dan menambah insentif guru. []










