Syekh Ghazali LKB, Penjaga Harmoni Musik Etnik Aceh di Balik Perjalanan Rafly KanDe
PORTALNUSA.com | BANDA ACEH – Tidak semua orang yang membangun sejarah musik berdiri di atas panggung. Sebagian justru bekerja dalam senyap, jauh dari sorotan lampu, tetapi jejak tangannya tertinggal dalam karya-karya yang terus didengar lintas generasi.
Salah satu sosok itu adalah Syekh Ghazali LKB.
Namanya mungkin tidak selalu disebut ketika orang berbicara tentang perjalanan musik etnik Aceh. Namun, di balik sejumlah karya yang memperkenalkan kekayaan syair, bahasa, dan musikalitas Aceh kepada publik, terdapat peran panjang seorang produser yang memilih menjadikan musik bukan sekadar komoditas hiburan, melainkan ruang untuk merawat identitas budaya.
Melalui Kasga Record, Syekh Ghazali membangun ruang produksi yang menjadi tempat bertemunya gagasan, kreativitas, dan karakter musikal sejumlah penyanyi Aceh. Salah satu perjalanan yang paling melekat dengan kiprahnya adalah kolaborasi bersama Rafly KanDe.

Dari rekaman menjadi perjalanan budaya
Perjalanan itu bukan dibangun dalam semalam. Sejak 2001 hingga 2017, Syekh Ghazali secara berkesinambungan memproduseri sejumlah album Rafly KanDe. Di antara karya yang lahir dari perjalanan tersebut adalah Hassan Husein, Ainal Mardhiah, Syurga Fidaus, Saleuem Aneuk Nanggroe, hingga Gisa Bak Punca. Jika anda dulunya menyukai lagu dengan nuansa etnik tentu di yakinkan koleksi tersebut, saat ini telah menjadi barang langka dan memiliki historis dalam perjalanan mengenal lagu Aceh.
Album-album tersebut bukan hanya rangkaian rekaman lagu. Di dalamnya terdapat syair, pesan, nilai kehidupan, serta warna tradisi yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Aceh.
Bagi Syekh Ghazali, musik memiliki ruang yang lebih luas daripada sekadar irama dan suara. Ia dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan, menjaga bahasa, menghidupkan syair, sekaligus memperkenalkan kekayaan kebudayaan Aceh kepada masyarakat yang lebih luas.
Salah satu babak penting dalam perjalanan itu terjadi ketika ia merilis album KanDe Band bertajuk The Fighting Spirit.
Album tersebut kemudian menjadi bagian dari lahirnya identitas nama panggung Rafly KanDe. Nama KanDe yang melekat hingga sekarang bukan sekadar tambahan identitas, tetapi juga menandai perjalanan musikal yang dibangun melalui proses kreatif dan produksi rekaman.
Di titik ini, peran Syekh Ghazali tidak hanya berada di balik perangkat rekaman. Ia turut menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan identitas musikal seorang penyanyi.
Tak hanya Rafly, Liza Aulia ikut mengisi perjalanan
Perjalanan Kasga Record tidak berhenti pada Rafly KanDe. Nama Liza Aulia juga menjadi bagian dari kiprah Syekh Ghazali dalam memperkenalkan musik Aceh melalui pendekatan world music.

Melalui album Kutidhieng (Aceh World Music) dan Rihon Meulambong, Liza Aulia mendapatkan ruang untuk menampilkan karakter vokal dan kekayaan musikalitasnya secara otentik tersendiri.
Kehadiran Liza memperlihatkan bahwa musik etnik Aceh memiliki banyak kemungkinan untuk dikembangkan. Tradisi tidak harus selalu disajikan dalam bentuk yang sama, namun dapat diolah lewat pendekatan musikal yang lebih luas tanpa kehilangan akar budaya.
Dengan karakter vokal dan karya yang berbeda, Liza Aulia hadir memperkaya perjalanan musik yang dibangun melalui Kasga Record.
Lea Amalia dan harmoni generasi berikutnya
Memasuki awal 2023, Syekh Ghazali kembali membuka babak baru. Saat itu, ia menggandeng penyanyi Lea Amalia melalui album Ie Bungong (The Voice of Aceh).

Lea hadir dengan karakter vokal khas. Ia memiliki warna suara yang berbeda dari Rafly KanDe maupun Liza Aulia. Namun, justru perbedaan itu yang memberikan ruang bagi lahirnya warna baru dalam khazanah musik etnik Aceh.
Jika Rafly memiliki karakter musikal yang telah dikenal melalui karya-karya bernuansa syair dan tradisi, Lea menawarkan pendekatan vokal yang berbeda. Keduanya tidak harus berada dalam satu warna untuk saling melengkapi, ungkap om syekh (Panggilan akrab artis Aceh kepada beliau).
Di tangan seorang produser, perbedaan karakter tersebut dapat menjadi kekayaan musikal yang membentuk harmoni menjadi lebih luas dari apa yang kita bayangkan.
Salah satu gambaran dari perjalanan itu dapat didengar melalui lagu Buraq, yang dirilis pada 30 Oktober 2026 melalui kanal YouTube Kasga Record.
Lagu ini menjadi penanda bahwa perjalanan pengembangan musik etnik Aceh masih terus bergerak. Ada kesinambungan antara karya-karya yang telah lahir sebelumnya dengan eksplorasi musikal yang diperkenalkan melalui suara baru.
Merawat musik di tengah perubahan zaman
Di tengah industri musik yang semakin didominasi platform digital, perubahan selera pendengar, dan persaingan karya yang gerakannya begitu cepat, mempertahankan musik etnik bukan pekerjaan sederhana dan mudah.
Musik daerah menghadapi tantangan untuk tetap relevan tanpa kehilangan karakter asli. Ia membutuhkan penyanyi yang mampu menyampaikan pesan, pencipta yang menjaga kekuatan syair, serta produser yang memahami bagaimana sebuah karya harus diproses dan diperkenalkan kepada pendengar.
Dalam konteks itu perjalanan Syekh Ghazali LKB bersama Kasga Record menjadi bagian dari cerita panjang musik bernuansa etnik kental Aceh.
Dari Rafly KanDe, Liza Aulia, hingga Lea Amalia, terdapat satu benang merah: upaya menghadirkan musik Aceh melalui karakter dan pendekatan yang berbeda, tetapi tetap berpijak pada kekayaan budaya sendiri.
Sebab, sejarah musik tidak hanya ditulis oleh mereka yang menyanyikan lagu atau berdiri di atas panggung. Ada pula orang-orang di balik layar yang bekerja memilih, mengolah, merekam, dan mempertemukan suara dengan pesan yang ingin disampaikan.
Syekh Ghazali LKB adalah salah satu sosok dalam perjalanan itu.
Dan selama syair masih dinyanyikan, bahasa Aceh masih dilantunkan, serta karya-karya etnik terus menemukan pendengarnya, perjalanan merawat harmoni musik Aceh akan selalu memiliki cerita untuk diteruskan. []













