Bukan Sekadar Warisan Tsunami, Smong Didorong Jadi Ikon Wisata Simeulue
Laporan: Becu/ Portalnusa.com, dari Simeulue
PORTALNUSA.com | SINABANG – Kearifan lokal Smong yang menyelamatkan masyarakat Simeulue dari ancaman tsunami didorong menjadi ikon pariwisata sekaligus sarana edukasi kebencanaan yang dapat dikenal hingga mancanegara.
Gagasan itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Menakar Ikon Smong” yang dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Simeulue, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Forum ini membahas upaya merawat memori kolektif masyarakat terhadap peristiwa tsunami 1907 dan 2004, sekaligus mengembangkan Smong sebagai identitas daerah yang mampu menghubungkan pelestarian budaya, mitigasi bencana, dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Smong bukan sekadar cerita turun-temurun. Kearifan lokal ini mengandung pengetahuan tentang tanda-tanda tsunami dan pentingnya segera menyelamatkan diri ketika bencana mengancam. Nilai sejarah dan kemanusiaan tersebut menjadi modal penting bagi Simeulue untuk membangun daya tarik wisata yang memiliki keunikan tersendiri.
Dalam FGD itu, Smong dipandang memiliki empat nilai utama, yakni sejarah, budaya, edukasi, dan kemanusiaan. Keempatnya dinilai perlu dikembangkan agar Smong tidak berhenti sebagai kebanggaan masyarakat atau warisan sejarah penyelamatan, tetapi menjadi identitas dan branding pariwisata Simeulue.
Monumen hingga Festival Smong
Salah satu gagasan yang mengemuka ialah membangun destinasi wisata edukasi Smong melalui monumen, museum, atau sejumlah titik pembelajaran kebencanaan.
Sebagai langkah awal, diusulkan pembangunan sekitar 8–10 monumen atau titik edukasi utama. Setiap lokasi dapat dilengkapi narasi mengenai sejarah Smong, pengalaman masyarakat menghadapi tsunami, serta pengetahuan praktis tentang mitigasi bencana.
Konsep ini diharapkan memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan. Mereka tidak hanya menikmati keindahan alam Simeulue, tetapi juga memahami kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Selain destinasi edukasi, penyelenggaraan Festival Smong sebagai agenda tahunan pariwisata daerah turut diusulkan. Kegiatan tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan sejarah dan budaya Simeulue, sekaligus membuka peluang usaha bagi pelaku ekonomi kreatif dan UMKM.
Pengembangan Smong juga diharapkan melibatkan sektor kuliner, jasa wisata, penginapan, serta seni dan budaya. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar peningkatan kunjungan wisatawan memberikan manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat dan berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pendidikan Jadi Kunci Pelestarian
Di luar pengembangan pariwisata, pelestarian Smong dinilai perlu diperkuat melalui pendidikan dan regulasi daerah.
Salah satu langkah yang didorong ialah mengoptimalkan kembali Peraturan Bupati Simeulue Nomor 34 Tahun 2020 tentang Muatan Lokal. Dinas pendidikan dan instansi terkait diharapkan memperkuat penerapan materi kearifan lokal Smong di sekolah-sekolah.
Dengan demikian, generasi muda, termasuk Gen-Z, tidak hanya mengenal Smong sebagai bagian dari sejarah daerah, tetapi juga memahami nilai budaya dan pengetahuan mitigasi yang terkandung di dalamnya.
Pendidikan tersebut penting untuk menjaga agar pesan keselamatan dari pengalaman masa lalu tetap diwariskan kepada generasi berikutnya. Pada saat yang sama, generasi muda dapat mengambil peran dalam memperkenalkan Smong kepada pengunjung dari berbagai daerah maupun negara.
FGD tersebut dihadiri Ketua DPRK Simeulue beserta istri, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para kepala dinas, pimpinan Bank Aceh Syariah, tokoh masyarakat, perwakilan media, serta pakar dan narasumber.
Menutup rangkaian kegiatan, tokoh Kabupaten Simeulue, Moris, menyampaikan pantun sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian seni dan budaya daerah.
“Jalan-jalan ke Kota Tua,
Singgah di kedai beli kemiri.
Asal untuk seni dan budaya,
Bagaimanapun kondisi akan kami hadiri.”
Pengembangan Smong sebagai ikon pariwisata diharapkan tidak hanya menjaga ingatan terhadap bencana masa lalu, tetapi juga menjadikan kearifan lokal sebagai kekuatan edukasi, identitas budaya, dan peluang ekonomi bagi Simeulue. []













