Kolaborasi Satgas PRR, TNI dan Petani Hidupkan Kembali Sawah-Sawah Aceh Timur

KA satgas PRR, Safrizal ZA

PORTALNUSA.com | ACEH TAMIANG – Enam bulan setelah bencana banjir dan tanah longsor menerjang wilayah timur Aceh pada akhir 2025, harapan masyarakat mulai tumbuh kembali. Sawah-sawah yang sebelumnya tertutup lumpur kini perlahan menghijau, menandai bangkitnya sektor pertanian melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi yang dijalankan Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh.

Di Kabupaten Aceh Tamiang, salah satu daerah yang mengalami dampak paling parah, ribuan hektare lahan pertanian sempat tidak dapat digarap akibat endapan lumpur yang menutupi area persawahan. Kondisi tersebut mengancam produktivitas pertanian sekaligus perekonomian masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor tersebut.

Namun melalui kolaborasi antara Satgas PRR, TNI, pemerintah daerah, kelompok tani, dan berbagai pihak terkait, proses pemulihan terus menunjukkan hasil yang memuaskan.

Untuk lahan dengan kategori rusak sedang, rehabilitasi dilakukan bersama jajaran Kodim 0117/Aceh Tamiang. Dari target 712 hektare lahan terdampak, sebagian besar telah berhasil dibersihkan dan kembali produktif. Bahkan, sejumlah area kini telah memasuki masa tanam kembali.

Sementara itu, pada lahan dengan tingkat kerusakan ringan, Satgas PRR mendorong keterlibatan kelompok tani melalui program Optimalisasi Lahan (Oplah). Skema tersebut dinilai efektif karena tidak hanya mempercepat pemulihan lahan, tetapi juga menghidupkan kembali semangat masyarakat untuk bangkit dari dampak bencana.

Hasilnya mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah seperti Kecamatan Bendahara, Manyak Payed, dan Karang Baru. Aktivitas pertanian kembali berjalan, roda ekonomi desa berputar, dan petani mulai mempersiapkan musim panen berikutnya.

Sebelum dan sesudah rehabilitasi pascabanjir di Aceh Tamiang. Lahan persawahan yang sempat tertimbun lumpur akibat bencana hidrometeorologi akhir 2025 kini kembali menghijau dan produktif.

Pemulihan yang dilakukan juga tidak berhenti pada pembersihan lahan. Satgas PRR turut memperkuat sistem irigasi melalui bantuan pompa air yang ditempatkan di sejumlah titik strategis. Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan air selama masa tanam sekaligus mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan.

Program rehabilitasi tersebut tidak hanya berdampak pada Aceh Tamiang, tetapi juga dirasakan masyarakat di Kabupaten Aceh Timur dan Kota Langsa yang turut terdampak bencana hidrometeorologi.

Pemulihan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi, kerja cepat, dan komitmen dalam penanganan pascabencana mampu mengembalikan harapan, memperkuat ketahanan pangan, serta menggerakkan kembali roda ekonomi warga di wilayah terdampak banjir.

Kepala Satgas PRR Aceh, Safrizal ZA, menegaskan bahwa tujuan utama pemulihan pascabencana bukan sekadar memperbaiki kerusakan fisik, tetapi mengembalikan kehidupan masyarakat agar dapat kembali beraktivitas secara normal.

“Yang kita bangun bukan hanya sawah dan infrastruktur, tetapi juga harapan masyarakat agar mereka bisa kembali bekerja, berproduksi, dan menata masa depan dengan lebih baik,” ujar Safrizal.

Menurutnya, keberhasilan pemulihan sektor pertanian di wilayah timur Aceh menjadi bukti bahwa kerja sama lintas sektor mampu mempercepat kebangkitan daerah pascabencana.

Sawah yang sempat tertimbun lumpur akibat banjir kini kembali menghijau. Rehabilitasi Satgas PRR Aceh menghidupkan lagi harapan, pangan, dan ekonomi petani.

Kini, kisah dari Aceh Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang bukan lagi tentang lumpur dan kerusakan. Di atas lahan yang sempat terendam banjir, benih-benih baru tumbuh. Bersamaan dengan itu, harapan masyarakat untuk bangkit dan menata masa depan kembali bersemi.[]