“Suara Itu Kini Hening, Tetapi Jejak Sang Guru Tak Pernah Padam”

Alm. H. Sjamsul Kahar (Foto: Ist/Kolase: PORTALNUSA.com)

Oleh: Ardiansyah

Eks.Producer SerambiFM/ Wartawan Portalnusa.com

PORTALNUSA.com | BANDA ACEH – Ada orang-orang yang hadir dalam perjalanan hidup kita bukan sekadar sebagai seorang atasan, rekan kerja, atau seorang tokoh. Mereka datang sebagai guru, tempat bertanya, sekaligus menjadi bagian dari cerita yang kelak kita sadari begitu berharga setelah mereka pergi.

H. Sjamsul Kahar adalah salah satunya.

Selain dikenal sebagai sosok yang memiliki perjalanan panjang dalam dunia pers dan media, beliau juga seorang seniman dengan talenta yang kuat di dunia sandiwara. Ada kecintaan yang begitu besar dalam dirinya terhadap seni, suara, cerita, dan radio.

Pada 2006, sebuah stasiun radio hadir dengan nama Serambi FM, dengan tagline “Laguna Beritana.” Tagline itu lahir dari ide Pak Sjamsul sendiri. Sementara para pendengar Serambi FM kami sapa dengan panggilan “Syedara Lon.”

Setiap kali saya membuka siaran—atau istilah kami di radio, open mic—sapaan “Syedara Lon” selalu bergema di udara. Sebuah kalimat sederhana, tetapi bagi kami yang pernah berada di balik mikrofon Serambi FM, ia menyimpan begitu banyak cerita.

Serambi FM ketika itu hadir dengan konsep musik, informasi dan talkshow. Namun bagi Pak Sjamsul, radio bukan sekadar tempat orang berbicara dan mendengarkan musik. Radio adalah ruang untuk melahirkan gagasan, menyampaikan cerita, sekaligus mendekatkan manusia dengan manusia lainnya.

Karena kecintaannya terhadap dunia siaran, Pak Sjamsul kerap menyempatkan diri naik ke ruang siaran. Kadang hanya untuk berbincang, berdiskusi, atau ikut memikirkan bagaimana sebuah produk iklan klien bisa dikemas menjadi suara yang lebih hidup.

Dari percakapan-percakapan sederhana itu, banyak ide lahir.

Dan salah satu kenangan yang sampai hari ini masih begitu kuat adalah ketika beliau menggagas agar sandiwara radio kembali diproduksi.

Saat itu, Ramadan 1432 Hijriah Tahun 2011 sandiwara radio mungkin sudah tidak lagi sepopuler masa-masa sebelumnya. Namun Pak Sjamsul melihat sesuatu yang berbeda. Ia melihat bahwa cerita masih memiliki tempat di hati pendengar.

Gagasan itu kemudian kami wujudkan.

Dengan dukungan sponsor Bank Aceh, Serambi FM memproduksi sandiwara radio yang mengudara sepanjang Ramadan. Sebanyak 28 episode diproduksi dan menjadi salah satu karya yang hingga kini masih tersimpan dalam ingatan.

Kala itu, Nani HS dipercaya sebagai manajer radio. Crew Serambi FM bekerja dengan segala kemampuan yang kami miliki—mulai dari talent voice over, produksi suara, penyuntingan hingga pengolahan berita radio.

Kami mungkin bukan sebuah tim besar.

Tetapi kami bekerja dengan semangat yang besar.

Dan di balik semua itu ada Pak Sjamsul, seorang sosok yang selalu memberi ruang bagi ide, kreativitas dan keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru.

Ada satu cerita kecil yang bagi saya justru terasa sangat besar sekarang.

Pak Sjamsul selalu mendengarkan radio pada malam hari. Di rumahnya, di dalam kamar, ada sebuah receiver radio yang selalu stay tune di frekuensi 90.20 Serambi FM, Laguna Beritana.

Bayangkan, seorang pemilik gagasan mendengarkan suara yang lahir dari ruang kecil tempat kami bekerja.

Kini, ketika beliau telah pergi, kenangan itu terasa jauh lebih dalam.

Suara iklan yang pernah kami produksi masih tersimpan dalam file-file audio. Potongan suara, rekaman sandiwara, dialog, dan tonil drama yang pernah beliau bawakan seakan menjadi arsip kecil tentang seseorang yang pernah begitu dekat dengan dunia suara.

Waktu memang berjalan.

Suara-suara itu mungkin suatu hari akan terdengar tua. Peralatan radio berganti. Frekuensi bisa berubah. Orang-orang yang dulu berada di balik mikrofon juga satu per satu melanjutkan perjalanan hidupnya.

Tetapi ada sesuatu yang tidak ikut hilang.

Kenangan.

Pak Sjamsul bukan hanya mengajarkan tentang jurnalistik. Beliau juga mengajarkan tentang seni, teater, radio, keberanian melahirkan gagasan dan—yang paling penting—tentang bagaimana menjadi manusia yang bijaksana dalam mengambil keputusan.

Bagi sebagian orang, beliau mungkin dikenal sebagai tokoh pers.

Bagi yang lain, beliau adalah seorang seniman.

Namun bagi kami yang pernah bekerja dan belajar bersamanya, Pak Sjamsul adalah guru sekaligus orang tua.

Seorang guru yang tidak selalu mengajar dengan kata-kata. Terkadang cukup dengan sebuah gagasan, sebuah percakapan singkat, atau keputusan yang diambil dengan tenang.

Hari ini, kami hanya bisa mengenang.

File-file lama mungkin akan kembali dibuka. Rekaman suara mungkin akan kembali diputar. Dan setiap kali suara itu terdengar, barangkali akan muncul kembali bayangan seseorang yang pernah berdiri di ruang siaran, berdiskusi, tertawa, memberi ide, lalu pulang dan mendengarkan radio dari kamarnya.

Selamat jalan, Pak Sjamsul Kahar.

Terima kasih telah pernah menyalakan begitu banyak cahaya dalam perjalanan kami—di dunia pers, media, radio dan seni.

Semoga seluruh amal ibadah, pengabdian, ilmu dan kebaikan yang Bapak tinggalkan menjadi bekal yang mengantarkan Bapak menuju tempat terbaik di sisi-Nya.

Kami yang pernah berjalan bersamamu akan melanjutkan perjuangan itu.

Bukan untuk menggantikan jejakmu—karena setiap manusia memiliki jalannya sendiri—tetapi untuk menjaga nilai-nilai yang pernah engkau tanamkan.

Sebab manusia boleh pergi, tetapi gagasan, karya dan keteladanan yang ditinggalkannya akan terus menemukan suara.

Dan di antara suara-suara itu, nama H. Sjamsul Kahar akan selalu memiliki tempat tersendiri. []