Pemerintah tak Bisa Diharap, Korban Banjir di Pidie Jaya Upah Pekerja Bersihkan Lumpur
PORTALNUSA.com | PIDIE JAYA – Lambatnya penanganan pascabanjir oleh pemerintah membuat warga Gampong Beurawang, Kecamatan Meureudu, harus berinisiatif sendiri membersihkan rumah mereka dari gunungan lumpur.
Seorang korban banjir di Pidie Jaya, tepatnya di Gampong Beurawang, Kecamatan Meureudu, Hamzah Abu harus mempekerjakan dua orang untuk membersihkan gunungan lumpur dari dalam rumah dan areal sekitarnya.
Untuk pekerjaan itu, Hamzah harus membayar Rp150.000/orang/hari. Pekerjaan itu sendiri sudah berlangsung 30 hari sejak Ramadhan lalu.
“Ketinggian lumpur di dalam rumah mencapai sekitar dua setengah meter dan harus dibuang secara manual,” ujar Hamzah didampingi istrinya, Maimunah saat ditemui wartawan, Kamis, 2 April 2026.
Menurut Hamzah, meskipun pemerintah telah memberikan bantuan tunai Rp8 juta, bantuan tersebut belum cukup untuk mengatasi dampak bencana yang telah berlangsung selama empat bulan. Hingga kini, lumpur belum sepenuhnya berhasil diangkat dari dalam rumahnya.
“Kalau hanya berharap kepada pemerintah tidak cukup. Sudah empat bulan kami lalui, tapi lumpur masih ada di dalam rumah,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan rasa syukur atas bantuan dari PMI Aceh yang telah membantu membersihkan lumpur di halaman rumahnya.
Sementara itu, dua pekerja yang diupah, Murdani dan Bustani, mengatakan mereka menerima upah Rp150.000/orang/hari. Keduanya telah bekerja selama sekitar satu bulan, tidak hanya di rumah Hamzah, tetapi juga di sejumlah rumah lainnya yang terdampak banjir.
“Kami kerja berdua, sudah sekitar 30 hari. Selain di sini, kami juga membantu warga lain membersihkan sisa lumpur banjir,” ujar Murdani.
Warga berharap adanya perhatian dan penanganan lebih cepat dari pemerintah agar proses pemulihan pascabencana dapat segera terselesaikan.[]






