Safrizal Apresiasi Respons Cepat Pemkab Aceh Tengah Atasi Sanitasi Huntara Ketol

Safrizal Apresiasi Respons Cepat Pemkab Aceh Tengah Atasi Sanitasi Huntara Ketol, Senin 22 Juni 2026 (Foto: Humas Satgas PRR Aceh/kolase by. portalnusa.com)

PORTALNUSA.com | TAKENGON – Ketua Posko Wilayah Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh, Dr. Safrizal ZA, memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah atas respons cepat dalam menangani persoalan sanitasi di hunian sementara (huntara) warga terdampak bencana di Kecamatan Ketol.

Apresiasi tersebut disampaikan setelah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh Tengah bergerak melakukan penyedotan limbah tinja di dua lokasi huntara, Senin, 22 Juni 2026.

Penanganan dilakukan kurang dari 24 jam setelah laporan diterima, menyasar Huntara warga Kampung Burlah di Pondok Balik serta Huntara warga Kampung Bintang Pepara di Jalan Tengah, Kecamatan Ketol.

Safrizal menilai langkah cepat itu menunjukkan kehadiran pemerintah daerah dalam menjawab kebutuhan mendesak masyarakat pascabencana.

ā€œDalam kondisi kebencanaan, pemerintah daerah harus hadir secara aktif dan tanggap membantu masyarakat. Kami mengapresiasi jajaran Pemkab Aceh Tengah, khususnya BPBD dan DLHK, yang langsung bergerak setelah menerima laporan teknis,ā€ ujar Safrizal, Senin, 22 Juni 2026.

Sebelumnya, Tenaga Ahli Satgas PRR Aceh Posko Wilayah, Zam Zam Mubarak, menyampaikan laporan terkait kondisi sanitasi di Huntara Bintang Pepara. Fasilitas septic tank MCK komunal dilaporkan telah penuh dan meluap sehingga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan bagi warga.

ā€œKondisi ini berisiko memicu penyebaran penyakit, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Warga juga tidak memiliki akses armada sedot WC maupun kemampuan pembiayaan secara mandiri,ā€ jelas Zam Zam dalam laporan lapangannya.

Selain persoalan sanitasi yang kini telah ditangani, Satgas PRR Aceh juga mencatat sejumlah persoalan lain di Kecamatan Ketol yang membutuhkan perhatian lanjutan.

Salah satunya terkait akses ekonomi masyarakat akibat rusaknya jalan produksi menuju perkebunan warga yang mengalami longsor. Kondisi tersebut menyebabkan biaya angkut hasil pertanian meningkat.

Persoalan lainnya adalah potensi kerawanan pangan bagi warga huntara, khususnya kelompok rentan seperti lansia dan ibu hamil, yang mulai membutuhkan pasokan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, dan telur.

Menanggapi hal tersebut, Safrizal meminta seluruh Tenaga Ahli Satgas PRR Aceh di berbagai daerah untuk terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah agar setiap persoalan masyarakat dapat segera direspon untuk di tindaklanjuti.

ā€œTenaga ahli di lapangan menjadi penghubung penting antara masyarakat dan pemerintah. Terus bangun komunikasi agar persoalan dapat cepat terdeteksi dan pemulihan fisik maupun ekonomi warga pascabencana dapat dilakukan bersama,ā€ pungkas Safrizal. []