Pembangunan Bendung Pante Lhong II Dikebut, Safrizal: Semoga Sesuai Target
PORTALNUSA.com | BIREUEN – Pembangunan darurat fisik Bendung Pante Lhong II di kawasan Teupin Mane–Beunyot, Kabupaten Bireuen, terus dikebut. Pemerintah menargetkan bendung tersebut mulai mengalirkan air ke areal persawahan petani di Kecamatan Juli dan Peusangan pada Oktober 2026.
Perkembangan proyek itu dipantau langsung Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra Posko Wilayah Aceh saat meninjau lokasi pembangunan, Minggu, 2 Agustus 2026.

Supervisor lapangan PT Adhi Karya, Teguh, mengatakan pembangunan cofferdam atau tanggul sementara telah rampung 100 persen. Saat ini pekerjaan difokuskan pada penguatan tanggul menggunakan geotube atau kantong pasir untuk meningkatkan ketahanannya.
“Kami menambah geotube agar cofferdam semakin kokoh. Hingga saat ini proses penguatan tanggul sementara telah mencapai sekitar 65 persen,” ujarnya.
Selain cofferdam, pekerjaan juga mencakup pembangunan saluran pelimpah darurat (emergency spillway) dan pemasangan pintu kantong lumpur dengan total penanganan sepanjang sekitar 150 meter.
Kementerian Pekerjaan Umum menargetkan seluruh pekerjaan utama, termasuk penyempurnaan bendung dan pengerukan sedimen pada saluran irigasi primer, selesai pada September 2026. Dengan demikian, pasokan air diharapkan sudah dapat dimanfaatkan petani untuk memulai musim tanam secara serentak pada Oktober mendatang.
Kepala Posko Wilayah Satgas PRR Aceh, Safrizal, berharap seluruh proses pembangunan berjalan sesuai jadwal. Ia mengapresiasi kerja keras Kementerian Pekerjaan Umum, Balai Wilayah Sungai (BWS), serta kontraktor pelaksana yang terus bekerja mempercepat pemulihan infrastruktur pascabencana.
“Kami berharap pembangunan darurat bendung beserta jaringan irigasinya dapat selesai sesuai target. Dukungan masyarakat, media, dan seluruh pemangku kepentingan sangat diperlukan agar proses pemulihan pascabencana berjalan optimal,” kata Safrizal.
Menurutnya, percepatan pembangunan Bendung Pante Lhong II menjadi bagian penting dari upaya pemulihan Aceh setelah terdampak bencana siklon pada akhir 2025, sekaligus untuk mengembalikan produktivitas lahan pertanian di wilayah Bireuen. []








